Recent Posts

Recent Comments

Saturday, November 22, 2014

Prazina

prazina

Komposisi:
Tiap tablet mengandung Pyrazinamide USP 500 mg

Sifat:
Prazina (Pyrazinamide) adalah suatu obat antituberkulosis, merupakan analog pyrazine dari niacinamide dengan nama kimia Pyrazinecarboxamide.
Prazina diserap dengan baik melalui saluran pencernaan.

Indikasi:
Prazina dianjurkan untuk diberikan pada pengobatan tuberkulosis, terutama bila obat-obat antituberkulosis lain seperti streptomycin, isoniazide, PAS dan lain-lain tidak dapat dipergunakan berhubung dengan intoleransi maupun resistensi bakteri.
Dapat diberikan setelah rangkaian pengobatan dengan obat-obat primer untuk tuberkulosis aktif, dan hanya diberikan bersama dengan obat-obat antituberkulosis lain yang efektif.

Dosis:
20 - 35 mg tiap Kg bobot tubuh sampai 3 g sehari diberikan dalam 3 - 4 takaran terbagi rata. Atau atas petunjuk dokter.

Kontraindikasi:
Kerusakan hati yang berat
Hati-hati bila diberikan kepada penderita dengan kerusakan ginjal atau penderita dengan sejarah gout.

Perhatian:
Pengamatan fungsi hati (terutama penetuan SGPT dan SGOT) harus dilakukan tiap 2 sampai 4 minggu selama pemberian obat ini. Pemeriksaan sebelum pengobatan dengan obat ini diharuskan, termasuk test in vitro terhadap kultur terbaru M. Tuberkulosis dari penderita seperti pengukuran/ penentuan terhadap obat-obat antituberkulosis lainnya.

Toleransi:
Prazina ditolerir dengan baik pada dosis normal. Anorexia, mual muntah-muntah, arthralgia, malaise demam dapat terjadi.
Konsentrasi dari asam urat dalam plasma dapat meninggi.

Kemasan/ No.Reg.:
Dus isi 100 tablet dalam 25 strip @ 4's/ D.2015499
Dus isi 100 tablet dalam 10 blister @ 10's/ Reg. No. DKL8320601510A2.
Botol berisi 1.000 tablet/ DKL8320601510A1.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER.

Dibuat oleh:
P.T. ARMOXINDO FARMA.
Cianjur - Indonesia

conmed
CONTROLLED MEDICATIONS Ltd.
Continue reading...

Friday, November 21, 2014

Nodrof

nodrof®
paracetamol, phenylpropanolamine HCl

  • Tidak boleh diberikan pada penderita yang peka terhadap obat simpatomimetik lain (misal: Ephedrine, Pseudoephedrine, Phenylephrine), penderita tekanan darah tinggi berat, dan yang mendapat terapi obat anti depresan tipe penghambat Monoamin Oksidase (MAO).
  • Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi susah tidur, jantung berdebar dan pusing.
  • Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita tekanan darah tinggi atau yang mempunyai potensi tekanan darah tinggi atau stroke, seperti pada penderita dengan berat badan berlebih (over weight) atau penderita usia lanjut.
  • Bila dalam tiga hari gejala flu tidak berkurang segera hubungi dokter atau unit pelayanan kesehatan.

KOMPOSISI
Tiap kaplet bersalut selaput mengandung:
Paracetamol650 mg
Phenylpropanolamine HCl              15 mg

CARA KERJA OBAT
Bekerja sebagai analgesik antipiretik, dekongestan hidung.

INDIKASI
Untuk meringankan gejala flu seperti demam, sakit kepala dan hidung tersumbat.

KONTRAINDIKASI
- Lihat box warning.
- Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat.
- Penderita yang hipersensitif terhadap komponen obat.

ATURAN PAKAI
Dewasa : 3 x sehari 1 kaplet salut selaput.

EFEK SAMPING
Gangguan pencernaan, gangguan psikomotor, takikardia, aritmia, palpitasi, retensi urin.
Penggunaan dosis besar dan jangka panjang menyebabkan kerusakan hati.

PERINGATAN DAN PERHATIAN 
  • Lihat box warning.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, glaukoma, hipertrofi prostat, hipertiroid, retensi urin, gangguan jantung dan diabetes melitus.
  • Tidak diajurkan penggunaan pada anak dibawah usia 6 tahun, wanita hamil dan menyusui, kecuali atas petunjuk dokter. 
  • Penggunaan pada penderita yang mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko kerusakan fungsi hati.

INTERAKSI OBAT
Penggunaan bersamaan antidepresan tipe penghambat MAO dapat mengakibatkan krisis hipertensi.

KEMASAN
Kotak berisi 10 alustrip @ 10 kaplet salut selaput.
Reg. No. DTL8722702309A1

SIMPAN PADA SUHU DI BAWAH 30°C

P. No. 1
AWAS! OBAT KERAS
Bacalah aturan memakainya

Diproduksi oleh:
PT. Tempo Scan Pacific Tbk,
Bekasi - Indonesia
Continue reading...

Thursday, November 20, 2014

Duviral

DUVIRAL 
LAMIVUDINE 
ZIDOVUDINE
Kaplet

KOMPOSISI:
Tiap Kaplet mengandung:
Lamivudine150 mg
Zidovudine USP                      300 mg

CARA KERJA:
Lamivudine dan Zidovudine merupakan inhibitor HIV-1 dan HIV-2 yang selektif dan poten, Lamivudine menunjukkan efek yang sinergis dengan Zidovudine dalam menghambat replikasi HIV dalam kultur sel. Kedua obat tersebut dimetabolisme secara berurut oleh intrasetuler kinase menjadi 5-trifosfat (TP). Lamivudine-TP dan Zidovudine-TP merupakan substrat dan inhibitor kompetitif HIV reverse transkriptase. Meskipun demikian, aktivitas utama keduanya melalui inkorporasi bentuk monofosfat ke dalam rantai DNA virus, yang menghasilkan terminasi rantai. Lamivudine dan Zidovudine trifosfat memperlihatkan affinitas yang lebih rendah secara signifikan terhadap sel inang DNA polimerase.

INDIKASI:
Duviral diindikasikan untuk pengobatan infeksi HIV pada dewasa dan anak-anak usia › 12 tahun, dengan immunodefisiensi progresif. (jumlah CD4+ 600 sel/mm3).

DOSIS DAN PEMBERIAN:
Dewasa dan anak-anak usia › 12 tahun: 2 kali sehari 1 tablet. Dapat diberikan dengan atau tanpa makanan.
Terapi menggunakan obat ini harus dalam pengawasan dokter yang berpengalaman dalam pengobatan infeksi HIV.
Bila pengurangan dosis obat ini secara klinik diperlukan, atau bila salah satu komponen (Lamivudine atau Zidovudine) harus dikurangi atau dihentikan, maka digunakan sediaan lamivudine dan Zidovudine yang terpisah.

Gangguan Ginjal:
Konsentrasi Lamivudine dan Zidovudine meningkat pada pasien dengan gangguan ginjal karena penurunan clearance. Karena diperlukan perubahan dosis, maka direkomendasikan penggunaan Lamivudine dan Zidovudine yang terpisah pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal (bersihan kreatinin ‹ 50 ml/menit).

Gangguan Hepatik:
Bersihan Lamivudine sebagian besar melalui ginjal. Berdasarkan pada data keamanan, tidak diperlukan dosis tambahan. Dari data terbatas, pada pasien dengan sirosis dapat terjadi akumulasi Zidovudine karena penurunan glukuronidasi. Oleh karena diperlukan perubahan dosis untuk Zidovudine, disarankan menggunakan sediaan terpisah antara lamivudine dan Zidovudine pada pasien dengan gangguan hepatik berat.

Dosis Pada Usia Lanjut:
Tidak ada data spesifik, meskipun disarankan dilakukan perawatan khusus pada kelompok usia lanjut dikarenakan terjadinya penurunan fungsi ginjal dan perubahan parameter hematologi.

KONTRA INDIKASI:
Pasien yang hipersensitif terhadap Lamivudine, Zidovudine atau bahan pembantu dalam sediaan.
Zidovudine dikontraindikasikan untuk pasien dengan jumlah neutrofil rendah (‹0,75 x 100/L) atau kadar hemoglobin rendah ‹ 7,5 g/dL atau 4,65 mmol/L), sehingga obat ini dikontraindikasikan untuk pasien dengan kondisi tersebut.

PERINGATAN DAN PERHATIAN:
-Peringatan khusus
Pasien yang mendapat terapi obat ini atau antiretroviral lainnya dapat mengalami infeksi oportunistik dan komplikasi infeksi HIV lainnya. Oleh karena itu pasien hendaknya mendapat pengawasan langsung oleh dokter yang berpengalaman dalam mengobati infeksi HIV.
Pasien hendaknya diberitahu bahwa terapi antiretroviral termasuk menggunakan obat ini, belum terbukti dapat mencegah penularan HIV kepada orang lain melalui kontak seksual atau kontaminasi darah.
-Hematologi
Anemia, neutropenia dan leukopenia dapat terjadi pada pasien dengan gejala penyakit HIV tingkat lanjut yang mendapat terapi Zidovudine, sehingga perlu dilakukan pengawasan terhadap parameter hematologi pada pasien yang menggunakan obat ini. Efek hematologi tersebut tidak muncul sebelum 4 - 6 minggu terapi.
Pada pasien penyakit HIV tingkat mula, reaksi samping hematologi jarang terjadi. Frekuensi pemeriksaan darah tergantung pada kondisi keseluruhan pasien. Misal setiap satu hingga tiga bulan. Penurunan kadar hemoglobin lebih dari 25 % dari batas bawah dan penurunan jumlah neutrofil lebih dari 50 % dari batas bawah membutuhkan pengawasan yang lebih sering.
Penambahan dosis Zidovudine disyaratkan bila terjadi anemia berat atau mielosupresi selama pengobatan dengan Duviral atau pada pasien dengan hemoglobin ‹ 9 g/dL (5,59 mmol/L) atau jumlah neutrofil ‹ 1 x 109/L. Karena penambahan dosis Duviral tidak memungkinkan, maka digunakan sediaan Zidovudine dan Lamivudine yang terpisah. Dokter hendaknya memberikan informasi secara individu pada pengobatan seperti ini.
-Anak-anak
Tidak ada data mengenai penggunaan Lamivudine pada anak-anak. oleh karena itu Duviral tidak diindikasikan untuk anak-anak usia ‹ 12 tahun. Dokter hendaknya memberikan informasi mengenai penggunaan Lamivudine dan Zidovudine.
-Ketidaknormalan hepatik/ asidosis
Jarang terjadi tetapi dapat muncul kejadian asidosis laktat tanpa hipoksamia dan hepatomegali berat disertai steatosis pada pasien yang diobati dengan Zidovudine. Pengobatan dengan Duviral hendaknya ditunda bila terjadi peningkatan kadar aminotransferase, hepatomegali atau asidosis laktat atau metabolik yang tidak diketahui penyebabnya.
-Myopati
Myopati dan miositis, dengan perubahan patologi yang diakibatkan penyakit HIV, seperti pada penggunaan jangka panjang Zidovudine dapat terjadi pada terapi dengan Duviral.
-Penekanan sumsum tulang
Duviral hendaknya digunakan secara hati-hati pada pasien dimana sumsum tulang memiliki jumlah granulosit ‹ 1000 sel/mm3 atau hemoglobin ‹ 9,5 g/dL. 
-Pasien dengan ko infeksi HIV dan virus hepatitis B
Keamanan dan efikasi Lamivudine belum terbukti untuk pengobatan kronik hepatitis B pada pasien yang terinfeksi HIV dan HBV. Pada pasien hepatitis B kronik non infeksi HIVyang diobati dengan Lamivudine, timbulnya resistensi HBV terhadap Lamivudine telah terbukti dan dihubungkan dengan respon pengobatan yang berkurang. Timbulnya varian virus hepatitis B yang dihubungkan dengan resistensi terhadap Lamivudine telah dilaporkan pada pasien terinfeksi HIV yang menerima pengobatan mengandung Lamivudine pada keadaan infeksi bersamaan dengan virus hepatitis B.
-Pasien dengan gangguan fungsi ginjal
Pengurangan dosis Lamivudine dan Zidovudine direkomendasikan untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Pasien dengan bersihan kreatinin ‹ 50ml/menit hendaknya tidak mengkonsumsi DUVIRAL.
-Redistribusi lemak
Redistribusi/ akumulasi lemak tubuh termasuk obesitas pusat, lemak dorsocerviks, pembesaran lemak pada bagian permukaan, wajah, pembesaran payudara dan munculnya cushingoid teramati pada pasien yang menerima terapi antiretroviral.

Penggunaan selama kehamilan dan menyusui:
Pemberian Duviral tidak direkomendasikan selama 3 bulan pertama kehamilan kecuali bila keuntungan yang didapat ibu lebih besar daripada resiko terhadap janin.

Kehamilan:
Penelitian reproduksi pada hewan menunjukkan bahwa Duviral melewati plasenta dan terbukti menyebabkan peningkatan kematian embrio pada kelinci (Lamivudine), pada tikus dan kelinci (Zidovudine). Lamivudine tidak memiliki efek teratogenik pada hewan. Pada dosis toksik, Zidovudine yang diberikan pada tikus selama organogenesis menghasilkan peningkatan gangguan pembentukan organ. Tidak terdapat bukti abnormalitas fetal pada dosis yang lebih rendah.
Meskipun penelitian reproduksi pada hewan tidak selalu sama responnya pada manusia, pemberian Duviral selama 3 bulan pertama kehamilan tidak direkomendasikan kecuali bila keuntungan yang didapat pada ibu lebih besar daripada resiko pada fetus.
Keamanan Lamivudine pada kehamilan belum diketahui. Penggunaan Zidovudine pada wanita hamil dengan pengobatan berlanjut setelah bayi lahir, menunjukkan pengurangan rata-rata transmisi HIV ke bayi. Meskipun demikian, tidak ada data mengenai Lamivudine. Sehingga pemberian Duviral selama kehamilan hendaknya dipertimbangkan antara keuntungan dan resikonya.

Wanita menyusui:
Penelitian pada tikus yang menyusui, menunjukkan bahwa pemberian secara oral Lamivudine dan Zidovudine diekskresikan melalui air susu. Tidak diketahui Lamivudine atau Zidovudine yang diekskresikan melalui air susu. Karena diekskresikan melalui air susu, maka direkomendasikan untuk ibu yang mengkonsumsi Duviral hendaknya tidak menyusui bayinya.

INTERAKSI OBAT:
Duviral mengandung lamivudine dan Zidovudine dimana masing-masing obat tersebut memiliki interaksi dengan obat lain, sehingga memungkinkan bila terjadi interaksi Duviral dengan obat lain. Interaksi metabolik dengan Lamivudine rendah karena metabolisme yang terbatas dan ikatan protein plasma yang rendah serta bersihan ginjal yang lengkap. Zidovudine memiliki ikatan protein yang terbatas tetapi dieliminasi terutama melalui konjungasi hepatik menjadi metabolit terglukuronasi yang inaktif.

Interaksi dengan Lamivudine
Pemberian trimetoprim, konstituen kotrimoksazol, menyebabkan peningkatan 40 % Lamivudine dalam darah pada dosis terapetik. Meskipun demikian, kecuali jika pasien mempunyai gangguan ginjal, tidak diperlukan pengaturan dosis lamivudine.
Lamivudine tidak memiliki efek farmakokinetik terhadap kotrimoksazol.
Pemberian kotrimoksazol dengan Duviral pada pasien dengan gangguan ginjal hendaknya dikontrol atau dievaluasi.
Kemungkinan interaksi dengan obat lain yang dlberikan bersamaan hendaknya dipertimbangkan, terutama bila rute eliminasi utamanya melalui ginjal.

Interaksi dengan Zidovudine
Pemberian bersamaan Zidovudine dengan Lamivudine memberikan peningkatan 13% Zidovudine dan peningkatan 28% kadar puncak plasma. Hal ini tidak signifikan dengan keamanan pasien sehingga diperlukan pengaturan dosis. Zidovudine tidak berpengaruh terhadap farmakokinetik Lamivudine.
Kadar feniton dalam darah dilaporkan menurun pada pasien yanq mengkonsumsi Zidovudine, sementara pada pasien lain meningkat. sehingga diperlukan pengontrolan kadar fenitoin pada pasien yang mengkonsumsi Duviral dan fenitoin.
Karena beberapa pasien yang mengkonsumsi Duviral dapat mengalami infeksi opportunistik, hendaknya diberikan terapi profilaksis antimikroba. Terapi profilaksis tersebut dapat menggunakan kotrimoksazol, pentamidin aerosol, pirimetamin dan asiklovir. Data terbatas menunjukkan bahwa probenesid meningkatkan waktu paruh dan daerah di bawah kurva konsentrasi Zidovudine dengan cara menurunkan glukuronidasi. Ekskresi melalui ginjal glukuronida (dan mungkin Zidovudine) menurun dengan adanya probenesid.
Lamivudine dan Zalcitabine dapat menghambat fosforelasi intracellular satu dengan lainnya sehingga penggunaan DUVIRAL yang dikombinasikan dengan Zalcitabine tidak direkomendasikan.
Penggunaan bersamaan DUVIRAL dengan Stavudine dihindari karena hubungan antagonistic dengan Zidovudine telah terbukti secara in vitro.


EFEK SAMPING:
  • Perubahan pada parameter uji laboratorium, termasuk netropenia, trombositopenia, anemia, peningkatan sementara dari serum enzim hati (AST, ALT) dan peningkatan serum amilase.
  • Cardiomypathy.
  • Stomatitis.
  • Kulit: Alopecia, erythema multiforme, sindrom Stevens-Johnson.

Lamivudine
Tidak ada  tanda-tanda klinis atau gejala-gejala pada kasus over dosis DUVIRAL. Hasil tes hematology yang dilakukan tetap normal. Tidak diketahui apakah Lamivudine dapat dibersihkan dengan menggunakan dialysis peritoneal atau hemodialisis.

Zidovudine
Overdosis akut Zidovudine terjadi pada penggunaan di atas 50 g. Hal-hal yang ditemukan secara konsisten adalah nausea dan vomitus. Kejadian lainnya yang dilaporkan adalah sakit kepala, mengantuk, lesu, kebingungan dan terdapat satu laporan grand mal seizure.
Hemodialisis dan peritoneal dialysis hanya mempunyai pengaruh yang kecil terhadap pembersihan Zidovudine dalam darah.

OVERDOSIS:
Tidak antidot untuk DUVIRAL.

KEMASAN/ NO. REG.:
Dus, 1 botol @ 60 kaplet/ DKL0312522004A1

Simpan pada suhu kamar (25 - 30°C), terlindung dari cahaya.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. KIMIA FARMA
BANDUNG - INDONESIA

Continue reading...

Wednesday, November 19, 2014

Neviral

NEVIRAL 
NEVIRAPINE
Kaplet 

KOMPOSISI
Tiap kaplet mengandung:
Nevirapine ...................................... 200 mg

CARA KERJA
Nevirapine merupakan nukleosida inhibitor reverse transkriptase yang memiliki aktivitas melawan HIV-1. Nevirapine mengikat secara langsung pada reverse transkriptase dan memblok aktivitas RNA dan DNA polimerase dengan cara mengganggu sisi katalitik enzim. HIV-2 reverse transkriptase dan DNA polimerase pada manusia (seperti DNA polimerase α, β, γ dan δ) tidak dihambat oleh Nevirapine.
Pada kultur sel, Nevirapine menunjukkan aktivitas aditif dan sinergis dalam melawan HIV pada kombinasi obat zidovudin, didanosin, stavudin, lamivudin, saquinavir dan indinavir.

INDIKASI
Nevirapine diindikasikan untuk pengobatan infeksi HIV-1 yang digunakan dalam bentuk kombinasi dengan antiretroviral lainnya.
Virus yang resisten tumbuh dengan cepat dan seragam ketika Nevirapine diberikan sebagai monoterapi, sehingga Nevirapine harus diberikan dalam bentuk kombinasi dengan sedikitnya dua antiretroviral lainnya.

DOSIS PEMBERIAN
Dosis yang direkomendasikan sehari 1 x 1 kaplet selama 14 hari (harus dipenuhi karena dapat mengurangi ruam), diikuti dengan sehari 2 x 1 kaplet, dalam bentuk kombinasi dengan antiretroviral lainnya. Bila diberikan dalam bentuk kombinasi, hendaknya diberikan informasi mengenai penggunaan obat tersebut.

Monitoring pasien:
Hendaknya dilakukan uji kimia klinik, termasuk uji fungsi hati, sebelum menggunakan Nevirapine dan pada interval waktu tertentu selama terapi.

Pengaturan dosis:
Hentikan pemakaian bila terjadi ruam berat. Pasien yang mengalami ruam selama 14 hari pertama terapi, hendaknya tidak meningkatkan dosis Nevirapine hingga ruam timbul lagi.
Pemberian Nevirapine hendaknya dihentikan pada pasien yang pada uji fungsi hati menunjukkan ketidaknormalan (tidak termasuk GGT), hingga uji fungsi hati kembali ke keadaan normal. Penggunaan Nevirapine dapat dimulai kembali dengan dosis 200 mg perhari. Peningkatan dosis harian menjadi 2 x 200 mg sehari hendaknya dilakukan dengan hati-hati. Hendaknya pemakaian dihentikan secara permanen bila uji fungsi hati menunjukkan ketidaknormalan.
Pasien yang menghentikan pemakaian Nevirapine selama lebih dari 7 hari hendaknya memulai menggunakan dosis yang direkomendasikan yaitu 1 x 200 mg sehari selama 14 hari pertama, diikuti dengan 2 x 200 mg sehari. Tidak terdapat data dosis Nevirapine yang direkomendasikan untuk pasien yang mengalami disfungsi hati, insuflsiensi ginjal atau dialysis.

Over Dosis:
Antidot untuk over dosis Nevirapine belum diketahui. Kasus over dosis Nevirapine berkisar antara 800 - 1800 mg per hari, untuk lebih dari 15 hari telah dilaporkan. Pasien yang pemah mengalami oedema, erythema nodosum, fatigue, demam, sakit kepala, insomnia, mual, infiltrasi fulmonary, vertigo, ruam, muntah, penurunan berat badan. Semua ini dapat hilang dengan menghentikan pemakaian Nevirapine.

KONTRA INDIKASI
Nevirapine dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap komponen kaplet.

PERHATIAN DAN PERINGATAN
Pada 12 - 16 minggu terapi dengan Nevirapine adalah saat periode kritis yang memerlukan pemantauan terhadap pasien untuk mendeteksi ancaman fungsi hati dan reaksi kulit.
Reaksi kulit yang mengancam hidup termasuk kasus fatal dilaporkan terjadi pada pasien yang mengkonsumsi Nevirapine. Termasuk Sindrom Stevens Johnson, nekrolisis epidermal toksik dan reaksi hipersensitif yang ditandai dengan ruam dan disfungsi organ. Pasien yang mengalami tanda-tanda atau gejala reaksi kulit berat atau reaksi hipersensitif hendaknya menghentikan penggunaan Nevirapine secepat mungkin.
Nevirapine harus dihentikan jika timbul ruam kulit atau reaksi hipersensitif. Beberapa faktor dapat meningkatkan resiko reaksi cutaneous termasuk kegagalan pemakaian dosis awal 200 mg per hari selama 14 hari dan keterlambatan dalam menghentikan pemakaian Nevirapine setelah muncul gejala awal.
Hepatotoksik berat, termasuk hepatitis fulminant fatal (peningkatan transaminase dengan atau tanpa hiperbilirubinemia, perpanjangan waktu tromboplastin atau eosinofilia), dilaporkan terjadi pada pasien yang mengkonsumsi Nevirapine. Beberapa kasus terjadi pada beberapa minggu pertama terapi. Pemberian Nevirapine hendaknya dihentikan bila pasien mengalami ketidaknormalan ALT atau AST berat hingga kembali ke keadaan normal. Pemberian Nevirapine hendaknya dihentikan bila terjadi ketidaknormalan fungsi hati. Hendaknya dilakukan monitoring ALT dan AST, khususnya selama 6 bulan pertama terapi menggunakan Nevirapine.
Lama terapi antiretroviral hendaknya dibatasi. Pasien yang menerima Nevirapine atau antiretroviral lainnya biasanya mengalami infeksi oportunistik dan kompiikasi infeksi HIV lainnya, sehingga hendaknya pengobatan dilakukan di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman dalam pengobatan penyakit HIV.

Gangguan Ginjal dan Fungsi Hati:
Nevirapine dimetabolisme oleh hati dan metabolit Nevirapine dieliminasi oleh ginjal. Tidak dilakukan uji farmakokinetik pada pasien disfungsi hati dan ginjal, sehingga hati-hati penggunaan Nevirapine pada pasien tersebut. Masa keuntungan klinis dari terapi antiretorviral mungkin terbatas. Pasien yang mendapat terapi Nevirapine atau terapi antiretroviral lainnya dapat menyebabkan infeksi dan komplikasi lain dari infeksi HIV, oleh karena itu harus berada di bawah pengawasan dokter berpengalaman dalam terapi pasien yang berhubungan dengan penyakit HIV. Ketika pemberian Nevirapine sebagai bagian dari suatu regimen antiretroviral, informasi produk yang lengkap untuk masing-masing komponen terapi harus dikonsultasikan sebelum pemberian awal.

EFEK SAMPING
Pemakaian Nevirapine telah terbukti menimbulkan efek samping yang serius seperti hepatitis klinik atau kegagalan hepatik, sindrom Stevens Johnson, keracunan nekrotis epidermal dan hipersensitivitas termasuk di dalamnya ruam berat atau ruam bersamaan dengan demam, malaise, kelelahan, sakit otot atau sendi, lesi mulut, konjungtivitis, udam wajah dan atau hepatitis,eosinofilia, granulositopenia, limfadenopati, dan disfungsi ginjal. Hepatotoksisitas yang berat dan mengancam jiwa, hepatitis yang fatal telah dilaporkan terjadi pada pasien yang diobati dengan Nevirapine. Efek samping hepatik dilaporkan terjadi selama 12 - 16 minggu pertama pengobatan, tetapi kejadian tersebut dapat pula terjadi kapan saja selama terapi. Survei paska pemasaran diketemukan beberapa efek samping dari penggunaan Nevirapine:
  • Tubuh : demam, mengantuk, putus obat, akumulasi lemak tubuh. 
  • Gastrointestinal : muntah
  • Hati dan empedu: jaundice, hepatitis cholestatic, nekrotis hepatik, gangguan hepatik.
  • Hematologi: eosinofilia, netropenia.
  • Muskuloskeletal: arthralgia.
  • Syaraf: paraestesia.
  • Kulit dan anggota badan: reaksi alergi termasuk anafilaksis, angiodema, bullouseruption, luka lambung dan urtikaria telah dilaporkan. Reaksi seperti demam, lesi mulut, konjungtivitis, edema muka, nyeri otot sendi, gelisah, fatig atau hepatik dan satu atau lebih hal-hal sebagai berikut: hepatitis, eosinofilia, granulositopenia, limfadenopati.

INTERAKSI OBAT
Induksi CYP3A oleh Nevirapine dapat menurunkan kadar obat dalam plasma darah yang digunakan bersamaan, yang dimetabolisme oleh CYP3A. Jadi, bila pasien telah stabil pada dosis tertentu terhadap obat yang dimetabolisme oleh CYP3A dan memulai pengobatan menggunakan Nevirapine, diperlukan pengaturan dosis kembali obat tersebut.

Rifampisin/ Rifabutin:
Tidak terdapat data yang cukup untuk mengevaluasi pengaturan dosis bila Nevirapine digunakan bersamaan dengan rifampisin atau rifabutin, sehingga, obat ini boleh digunakan dalam bentuk kombinasi hanya bila betul-betul diperlukan dan harus dimonitor.

Ketokonazol:
Nevirapine dan ketokonazol jangan digunakan dalam waktu bersamaan. Penggunaan bersamaan Nevirapine dan ketokonazol menghasilkan penurunan ketokonazol dalam plasma darah secara signifikan.

Kontrasepsi oral:
Tidak terdapat data klinik mengenai efek Nevirapine terhadap farmakokinetik kontrasepsi oral. Nevirapine dapat menurunkan konsentrasi kontrasepsi oral dalam plasma (juga kontrasepsi hormon lainnya), sehingga obat-obat tersebut hendaknya tidak digunakan bersamaan dengan Nevirapine.

Methadon:
Berdasarkan metabolisme methadon, Nevirapine dapat menurunkan konsentrasi methadon dalam plasma dengan cara meningkatkan metabolisme hepatiknya. Terjadi sindrom narkotik pada pasien yang menerima Nevirapine bersamaan dengan methadon. Pasien yang menggunakan methadon dan akan memulai menggunakan Nevirapine hendaknya dimonitor karena adanya sindrom tersebut dan hendaknya dilakukan pengaturan terhadap dosis methadon.

Redistribusi lemak:
Redistribusi/akumulasi lemak tubuh termasuk obesitas sentral, pembesaran lemak dorsoservival (buffalo hump). Perifera wasting, pembesaran payudara, dan penampakan cushingoid telah teramati pada pasien yang mendapat terapi antiretroviral. Mekanisme dan konsekuensi jangka panjang belum diketahui.

Simpan pada suhu kamar (25 - 30°C), terlindung dari cahaya.

KEMASAN/ NO. REG.:
Dus, 1 botol @ 60 kaplet/ DKL 0312521904A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. KIMIA FARMA
BANDUNG - INDONESIA

Continue reading...

Tuesday, November 18, 2014

INH

I N H

KOMPOSISI:
Tiap tablet atau kaplet mengandung :
Isoniazidum                                  100mg

FARMAKOLOGI:
INH bersifat antibakteri, khusus terhadap Mycobacteria tuberculosis, daya antibakterinya adalah sebagai bakteriostatik dalam konsentrasi yang sangat rendah (INH efektif dalam dosis rendah).


INDIKASI:
  • Antituberkulosis
  • Profilaksis terhadap tuberkulosis

KONTRA INDIKASI:
Kelainan fungsi hepar.

EFEK SAMPING:
Mual, muntah, reaksi hipersensitivitas (rash peripheral neuritis), episade psychotic, agranulocytosis, konvulsi, nekrosis hati.


PERINGATAN DAN PERHATIAN:
  • Bila timbul gejala hepatitis seperti mual, muntah, lemah dan kehilangan nafsu makan harap melapor ke dokter.
  • Hati-hati pemberian pada penderita dengan gangguan fungsi hati, ginjal, epilepsi, alkoholism

TAKARAN PEMAKAIAN:
Dewasa:
Untuk pencegahan: 4-5 mg/kg/hari atau 300 mg/hari sebagai dosis tunggal.
Untuk tuberkulosis meningitis, pulmonary tuberkulosis: 10-20 mg/kg/hari.

Bayi dan anak-anak:
10-20 mg/kg/hari dalam dosis tunggal atau lebih.

KEMASAN:
Botol plastik isi 1000 kaplet, No. Reg. GKL 0631403504 A1
Botol plastik isi 1000 tablet,  No. Reg. GKL 0631400610 A1

SIMPAN DITEMPAT SEJUK (15 - 25)°C
DAN KERING TERLINDUNG DARI CAHAYA

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. BIMA MITRA FARMA
TANGERANG - INDONESIA
Continue reading...
 

Followers

Add to Technorati FavoritesTopOfBlogsobat, info, tablet,syrup, injection, ampul, cream, ointment, solution, blogarama - the blog directoryBlog Directory & Search engineMedicine Blogs - Blog Catalog Blog Directory Health Free Page Rank ToolPowered by  MyPagerank.Net Ping your blog, website, or RSS feed for Free
review http://www.obatinfo.com on alexa.com

Masukkan alamat email anda di bawah ini untuk mendapatkan informasi obat terbaru

   

ObatInfo.com hanya memberikan informasi-informasi yang tertera pada kemasan dan brosur obat serta dari berbagai sumber. Informasi-informasi di ObatInfo.com tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat, saran, konsultasi ataupun kunjungan kepada dokter Anda. Kunjungi dokter anda, bila memiliki masalah kesehatan. ObatInfo.com tidak bertanggung jawab atas segala dampak yang terjadi atas penggunaan/ penyalahgunaan informasi-informasi yang disajikan disini.

ObatInfo.com | all about drugs Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts