Recent Posts

Recent Comments

Friday, October 31, 2014

Phardex

PHARDEX®
Tablet

KOMPOSISI
Tiap tablet mengandung Tizanidine hydrochloride setara dengan Tizanidine 2 mg.

CARA KERJA OBAT
Tizanidine bekerja secara sentral, terutama pada syaraf tulang belakang. Ia lebih bersifat menghambat mekanisme polisinaptik yang bertanggung jawab pada terjadinya tonus otot yang berlebihan, terutama dengan menurunkan pelepasan asam-asam amino dari interneuron-interneuron. Obat ini sendiri tidak mempengaruhi penyaluran impuls neuromuskuler.
Tizanidine relatif ditoleransi secara baik dan relatif efektif baik terhadap rasa nyeri pada kejang otot yang akut, ataupun pada spastisitas kronik yang bermula dari medula spinalis ataupun otak. Obat ini menurunkan tahanan terhadap gerakan pasif dan meredakan kekejangan.

FARMAKOKINETIK
Tizanidine diserap dengan cepat dan sempurna. Konsentrasi puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 1 - 2 jam. Metabolisme terutama pada hepar. Metabolitnya tidak lagi mempunyai aktifitas yang benmakna. Bahan asal maupun metabolitnya diekskresikan terutama melalui ginjal (kira-kira 70%). Tizanidine dieliminasikan dengan waktu paruh 3 - 5 jam. Ikatan protein plasmanya rendah (30%). Pemberian bersamaan dengan makanan tidak mempengaruhi kerja fanmakokinetik dari tizanidine.


INDIKASI
Nyeri kejang otot
  • Yang berhubungan dengan kelainan fungsional dan statik pada sumsum tulang belakang (Sindroma servikal dan lumbal, misal torticollix, lumbago).
  • Setelah pembedahan, misalnya terhadap hernia nukleus pulposus atau osteoarthritis sendi pinggul.
Pengobatan tambahan pada spastisitas akibat kelainan neurologik.
Misalnya pada sklerosis multipel, myelopati kronis, penyakit-penyakit degeneratif dari medula spinalis, CVA dan Cerebral palsy.

DOSIS
Untuk mengatasi nyeri kejang otot: 2 atau 4 mg, tiga kali sehari.
Untuk kasus-kasus yang berat dapat diberikan dosis tambahan sebesar 2 atau 4 mg pada waktu malam hari.

Pengobatan tambahan pada spesifitas akibat kelainan neurologik:
Dosis yang diberikan harus disesuaikan dengan keadaan penderita. Dosis awal perhari tidak boleh melebihi 6 mg yang diberikan terbagi dalam 3 dosis. Dosis tersebut dapat ditingkatkan dengan interval setiap tiga hari atau seminggu sekali, dengan 2 atau 4 mg lagi.
Reaksi terhadap pengobatan yang optimum biasanya dicapai dengan dosis harian sebesar antara 12 sampai 24 mg, yang diberikan dalam tiga atau empat bagian yang sama besar. Dosis per hari 36 mg tidak boleh dilampaui.

KONTRAINDIKASI
Pada kehamilan.
Penggunaan bersama-sama Tizanidine dengan penghambat kuat CYP1A2 seperti Fluvoxamine atau Ciprofloxacin.

PERINGATAN DAN PERHATIAN
Pada pasien-pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hepar, dosis yang diberikan haruslah disesuaikan dengan keadaan tersebut.
Penderita mungkin mengalami rasa mengantuk pada awal pengobatan, oleh karena itu harus dianjurkan untuk tidak melakukan kegiatan yang memerlukan ketelitian atau kesadaran yang tinggi seperti mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.
Tizanidine tidak mempunyai efek teratogenik pada binatang percobaan, tetapi keamanannya terhadap kehamilan belum pemah diuji. Oleh sebab itu Tizanidine tidak boleh diberikan pada wanita hamil (lihat "KONTRAINDIKASI"). Pengalaman penggunaan obat ini terhadap anak-anak masih sangat terbatas dan keamanannya terhadap bayi yang disusui ibu pemakai Tizanidine juga belum diketahui.
Hipotensi: Hipotensi dapat terjadi selama pengobatan dengan Tizanidine dan juga hasil interaksi dengan inhibitor CYPIA2 dan/atau obat antihipertensi. Gejala-gejala hipotensi berat seperti kehilangan kesadaran dan penyempitan sistem peredaran darah dapat terjadi.
Sindrom Putus Obat: Peningkatan hipertensi dan takikardia dapat terjadi setelah putus obat Tizanidine secara tiba-tiba, ketika telah digunakan secara terus menerus dan/atau dalam dosis harian tinggi dan/atau penggunaan bersamaan dengan obat antihipertensi lain. Pada kasus ekstrim, peningkatan hipertensi memudahkan teriadinya gangguan pembuluh darah otak (cerebrovascular). Tizanidine sebaiknya tidak dihentikan secara tiba-tiba tetapi lebih baik secara berangsur-angsur. (Lihat Interaksi obat dan Efek samping)

INTERAKSI OBAT
Jika diberikan bersama dengan obat-obat antihipertensi termasuk juga diuretika, Tizanidine adakalanya dapat menimbulkan hipotensi dan bradikardi.
Alkohol atau obat-obat sedatif bisa memperkuat daya sedasi dari Tizanidine.
Inhibitor-inhibitor CYP : Pemberian bersama-sama obat yang diketahui sebagai penghambat aktivitas CYP1A2 dapat meningkatkan level plasma Tizanidine. Penggunaan bersama-sama Tizanidine dengan Fluvoxamine atau Ciprofloxacin keduanya merupakan penghambat CYP4501A2 pada manusia, dikontraindikasikan. Penggunaan bersama-sama Tizanidine dengan Fluvoxamine atau Ciprofloxacin menghasilkan 33 kali lipat dan 10 kali lipat peningkatan AUC Tizanidine, secara berturut-turut.
Secara klinis, hipotensi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan mengantuk, pusing dan penurunan psikomotor. Pemberian Tizanidine dengan inhibitor lain CYPIA2 seperti beberapa antiarrhythmics (Amiodarone, Mexiletine, Propafenone), Cimetidine, beberapa fluoro quinolon (Enoxacin, Pefloxacin. Norfloxacin), Rofecoxib, kontrasepsi oral dan Ticlopidine tidak dianjurkan. Peningkatan level plasma Tizanidine dapat menghasilkan gejala-gejala overdosis seperti interval QT (c).
Antihipertensi : Penggunaan bersama-sama Tizanidine dengan antihipertensif, termasuk diuretik, adakalanya menyebabkan hipotensi dan bradikardia. Pada beberapa pasien rebound hipertensi dan takikardia dapat terjadi setelah penghentian secara tiba-tiba Tizanidine ketika digunakan bersamaan dengan obat anti hipertensi lain. Pada kasus ekstrim, rebound hipertensi memungkinkan terjadinya gangguan pembuluh darah otak.

EFEK SAMPING
Dengan dosis rendah, seperti yang dianjurkan untuk mengatasi nyeri kejang otot, yang efek samping yang timbul sangat jarang dan biasanya ringan serta bersifat sementara. Efek samping tersebut meliputi rasa mengantuk, letih, pusing, mulut serasa kering, nausea, sedikit terjadi penurunan tekanan darah dan rasa lelah.
Dengan dosis yang lebih tinggi, seperti yang dianjurkan untuk mengatasi keadaan spastisitas, efek samping diatas lebih sering dan lebih nyata, tetapi jarang terjadi begitu beratnya sehingga memerlukan penghentian pengobatan. Selain itu dapat pula timbul lemas otot dan sukar tidur, dan adakalanya hipotensi dan bradikardi. Peningkatan kadar transminase dalam serum pernah dilaporkan terjadi pada beberapa penderita.
Sindrom Putus Obat: Rebound hipertensi dan takikardia dapat terjadi setelah putus obat Tizanidine secara tiba-tiba, ketika telah digunakan secara terus menerus dan/atau dalam dosis harian tinggi dan/atau penggunaan bersamaan dengan obat antihipertensi lain. Pada kasus ekstrim, rebound hipertensi memudahkan terjadinya gangguan pembuluh darah otak (cerebrovascular).

KELEBIHAN DOSIS
Sampai saat ini baru dijumpai satu kasus pada orang dewasa yang mendapatkan 400 mg Tizanidine. Penyembuhan kembali dapat dilakukan secara sempurna.

Gejala: Pusing, mual, hipotensi, mengantuk, miosis, napas berat dan koma.

Pengobatan: Dengan cara pengurasan lambung diikuti dengan pemberian norit, memaksakan banyak kencing, membantu sistem pernafasan dan kardiovaskular.
Belum diketahui adanya antidotum yang spesifik.

PENYIMPANAN
Simpan pada (25 - 30)° C dan terlindung dari cahaya.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

KEMASAN
Phardex® 2 mg: Box, 10 strip @ 10 tablet
No. Reg. DKL 1021634510A1

Diproduksi oleh:
PHAROS
Jakarta - Indonesia
Continue reading...

Thursday, October 30, 2014

Nymiko

NYMIKO®
Nystatin
Suspensi

Tiap ml mengandung:
Nistatin ............................ 100.000 IU

FARMAKOLOGI
NYMIKO® suspensi mengandung Nistatin yang merupakan anti jamur dan aktif terhadap jamur seperti Candida albicans.
Nistatin dapat mengikat sterol pada membran sel jamur, menghasilkan perubahan permeabilitas membran sel jamur, diikuti dengan kebocoran dari kompanen-komponen intraselular dan mengakibatkan jamur mati.

INDIKASI
NYMIKO® suspensi diindikasikan untuk mengobati infeksi Candida pada rongga mulut, esofagus dan saluran pencernaan.

KONTRA-INDIKASI
Hipersensitivitas terhadap Nistatin.

EFEK SAMPING
Gangguan pada saluran pencernaan, diare, mual dan muntah.

PERHATIAN
sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil dan menyusui.


DOSIS
  • Infeksi rongga mulut yang disebabkan oleh Candida albicans (agar dikumur dahulu sebelum ditelan).
    • Bayi dan anak-anak: 1 ml (100.000 IU), 4 kali sehari.
    • Dewasa : 1 ml (100.000 IU), 4 kali sehari.
  • Intestinal Candidiasis (moniliasis)/ candida pada Intestinum
    • Bayi dan anak-anak: 1 ml (100.000 IU), 4 kali sehari.
    • Dewasa: 5 ml (500.000 IU), 4 kali sehari.
  • Pengobatan dilanjutkan paling sedikit sampai 48 jam, setelah gejalanya hilang.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER 
KOCOK DAHULU SEBELUM DIPAKAI

KEMASAN
Botol dengan isi bersih 12 ml
No. Reg.: DKL9722220033Al

PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk (15°-25°C) dan kering, terlindung dari cahaya.

Dibuat oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia
Continue reading...

Wednesday, October 29, 2014

Glucofor

GLUCOFOR®

KOMPOSISI:
GLUCOFOR® 500 :
Tiap tablet salut selaput mengandung: Metformin HCl 500 mg
GLUCOFOR® 850 :
Tiap kaplet salut selaput mengandung: Metformin HCl 850 mg


INDIKASI:
  1. Untuk terapi pada pasien diabetes yang tidak tergantung insulin dan kelebihan berat badan dimana kadar gula tidak bisa dikontrol dengan diet saja. Dapat dipakai sebagai obat tunggal atau dapat diberikan sebagai obat kombinasi dengan sulfonilurea.
  2. Untuk terapi tambahan pada penderita diabetes dengan ketergantungan terhadap insulin yang simptomnya sulit dikontrol.

DOSIS DAN CARA PEMBERIAN:
Tablet/ kaplet diberikan bersama makanan atau setelah makan.
Dewasa:
  1. Awal: sehari 2 kali 850 mg atau sehari 3 kali 500 mg. Hal ini dapat dicapai dalam beberapa hari tetapi tidak jarang efek dapat dicapai setelah 2 minggu. Apabila hasil yang diinginkan tidak tercapai, dosis dapat ditingkatkan secara hati-hati sampai maksimum 3 g sehari, Bila gejala diabetes telah dapat dikontrol, dosis dapat diturunkan,
  2. Apabila dikombinasi dengan sulfonilurea, mula-mula diberikan 1 tablet 500 mg atau ½ - 1 kaplet 850 mg kemudian dosis dapat dinaikkan perlahan-lahan sampai diperoleh kontrol optimal. Seringkali dosis sulfonilurea dapat dikurangi dan pada beberapa pasien bahkan tidak perlu diberikan lagi. Pengobatan dapat dilanjutkan dengan metformin sebagai obat tunggal.
  3. Apabila diberikan bersamaan dengan insulin:
    1. Bila dosis insulin kurang dari 60 unit sehari, permulaan diberikan 1 tablet 500 mg atau ½-1 kaplet 850 mg, dosis insulin dikurangi secara bertahap (4 unit setiap 2 - 4 hari), Pemakaian tablet/ kaplet dapat ditambah setiap interval mingguan.
    2. Bila dosis insulin lebih dari 60 unit sehari, pemberian metformin ada kalanya menurunkan kadar gula darah dengan cepat. Pasien demikian harus diobservasi dengan hati-hati selama 24 jam pertama setelah pemberian metformin. Setelah itu dapat diikuti petunjuk butir (a) di atas.

Dosis percobaan tunggal:
Penentuan kadar gula darah setelah pemberian suatu dosis percobaan tunggal tidak memberikan petunjuk apakah seorang penderita diabetes akan memberikan respon terhadap metformin berminggu-minggu, Oleh karena itu dosis percobaan tunggal tidak dapat digunakan sebagai penilaian,

OVERDOSIS:
Gejala-gejala:
Hipoglikemia dapat terjadi bila diberikan bersama sulfonilurea, insulin atau alkohol.
Pada dosis berlebih dapat terjadi asidosis laktat.
Cara penanggulangan:
Terapi penunjang dapat diberikan secara intensif terutama untuk memperbaiki hilangnya cairan dan gangguan metabolik,


CARA KERJA OBAT:
  1. Metformin merupakan zat antihiperglikemik oral golongan biguanid.
  2. Mekanisme kerja metformin menurunkan kadar gula darah dan tidak meningkatkan sekresi insulin.
  3. Metformin tidak mengalami metabolisme di hati, diekskresikan dalam bentuk yang tidak berubah terutama dalam air kemih dan sejumlah kecil dalam tinja.

PERINGATAN DAN PERHATIAN:
Pada pengobatan kombinasi dengan sulfonilurea atau insulin, kadar gula harus diperiksa mengingat kemungkinan timbulnya hipoglikemia.
  1. Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
  2. Pasien dengan kadar serum kreatinin di atas batas ambang normal untuk usia mereka, tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi metformin HCl.
  3. Hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan fungsi hati karena gangguan fungsi hati dihubungkan dengan beberapa kasus asidosis laktat.
  4. Tidak dianjurkan penggunaan pada kondisi dimana menyebabkan dehidrasi atau pada penderita yang baru sembuh dari infeksi serius atau trauma.
  5. Dianjurkan pemeriksaan berkala kadar B 12 pada penggunaan jangka panjang.
  6. Oleh karena adanya kemungkinan terjadinya hipoglikemia pada pengobatan kombinasi dengan sulfonilurea, kadar gula dalam darah harus dimonitor.
  7. Pada pengobatan kombinasi metformin dan insulin, sebaiknya dilakukan di rumah sakit agar tercapai ratio kombinasi kedua obat yang mantap.
  8. Hati-hati pemberian pada pasien usia lanjut yang mempunyai gangguan fungsi ginjal.
  9. Tidak direkomendasikan penggunaan pada anak-anak.
  10. Hindari penggunaan alkohol yang berlebihan, dimana alkohol dapat mempengaruhi metformin yaitu pada metabolisme laktat.

EFEK SAMPING:
  1. Metformin dapat diterima baik oleh pasien dengan hanya sedikit gangguan gastrointestinal yang biasanya hanya bersifat sementara. Hal ini umumnya dapat dihindari apabila metformin diberikan bersama makanan atau dengan jalan mengurangi dosis secara temporer.
  2. Bila tampak gejala-gejala intoleransi, penggunaan metformin tidak perlu langsung dihentikan, biasanya efek samping tersebut akan hilang pada penggunaan selanjutnya.
  3. Anoreksia, mual, muntah, diare.
  4. Berkurangnya absorbsi vitamin B12.

KONTRA INDIKASI:
  1. Gangguan fungsi ginjal.
  2. Penyakit hati kronis, kegagalan jantung dan infark miokardium, alkoholisme, riwayat atau keadaan yang berkaitan dengan asidosis laktat seperti syok atau insufisiensi pulmonal, dan keadaan yang berhubungan dengan hipoksemia.
  3. Hipersensitif terhadap metformin HCl.
  4. Keadaan asidosis metabolik akut dan kronik termasuk ketoasidosis dengan atau tanpa disertai koma. Pasien diabetes ketoasidosis harus diterapi dengan insulin.
  5. Kehamilan dan menyusui.

INTERAKSI OBAT:
  1. Kemungkinan terjadi interaksi antara metformin dengan antikoagulan tertentu. Dalam hal ini mungkin diperlukan penyesuaian dosis antikoagulan.
  2. Terjadi penurunan klirens ginjal metformin pada penggunaan bersama dengan simetidin maka dosis harus dikurangi.

KEMASAN:
GLUCOFOR® 500 tablet
Box, 6 strip @ 10 tablet salut selaput DKL 0624222517A1
GLUCOFOR® 850 kaplet
Box, 10 strip @ 6 kaplet salut selaput DKL 0624222609A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

SIMPAN DI BAWAH SUHU 30°C 
TERLINDUNG DARI CAHAYA

PT SOHO INDUSTRI PHARMASI
Jl. Pulogadung No. 6
JAKARTA - INDONESIA
Continue reading...

Tuesday, October 28, 2014

Tarivid Tablet

TARIVID®
Ofloxacin
film coated tablet

Composition
Each film coated tablet contains:
Ofloxacin ................................... 100 mg or 200 mg or 400 mg

Pharmacology
TARIVID® (Ofloxacin) is one of the fluorinated quinolones. It is an orally administered broad spectrum antibacterial drug, active against most Gram-negative bacteria, many Gram-positive bacteria and some anaerobes.

The susceptible Gram-negative bacteria include Citrobacter, Enterobacter, Klebsiella, Proteus, Salmonella and Shigella species, Y. enterocolitica, E. coli, H. influenzae, N. gonorrhea, Providencia, Serratia and Pseudomonas species, V. cholerae, L. Pneumophila and C jejuni. Against P. aeruginosa, it is as potent as gentamicin and several times more potent than cefotaxime.

The susceptible Gram-positive.bacteria include S. aureus, S. pneumoniae, S. faecalis and L. monocytogenes. Some anaerobic organisms, including B. melaninogenicus, B. fragilis and C. welchii, are moderately susceptible, Ofloxacin is also active against C. trachomatis and M. pneumoniae.

Like other quinolones, ofloxacin is bactericidal through inhibition of the A sub-units of the enzyme DNA gyrase which controls supercoiling of DNA in bacteria. The antibacterial activity of ofloxacin is not influenced by the bacterial resistance to non-quinolone anti bacterial drugs, but it is markedly reduced in acid urine.

Oral administration of a single 300 mg dose of ofloxacin produces a peak serum concentration of about 3 μg/ml within 2 hours. A dosage of 300 mg twice daily for up to 14 days produces peak serum levels ranging from 3 to 6 μg/ml on the last day. Food only delays absorption, while antacid may markedly reduce absorption. Compared to norfloxacin and ciprofloxacin at the same dose, ofloxacin is more rapidly absorbed and produces a higher serum level and 4 times higher AUC (AUC represents the amount of drug absorbed).

Ofloxacin is widely distributed to most tissues and body fluids. The volume of distribution is more than 1 l/kg, and the tissue concentrations achieved are at least as high as the serum level for most tissues.

After single doses of 100 to 600 mg, 70% to 98% of the drug was excreted unchanged in the urine within 48 hours, and the urinary concentration remains above the MIC90 for most bacterial species at 48 hours after administration. The elimination half-life after doses of 200 mg or more is about 6 hours or more (up to 7.5 hours). In patients with renal impairment, peak serum concentrations are delayed, the elimination half-life and AUC are substantially increased depending on the degree of renal impairment, and thus dosage adjustments maybe necessary.

Indications
Treatment of serious infections caused by ofloxacin susceptible organisms, such as:
  1. Upper and lower urinary tract infections.
  2. Gonococcal and non-gonococcal urethritis and cervicitis.
  3. Lower respiratory tract infections, except those caused by streptococcus.
  4. Skin and soft tissue infections.
  5. Gynecological infections.

Contraindicatlons
  1. Hypersensitivity to ofloxacin and other quinolone derivatives.
  2. Pregnant and nursing women.
  3. Children and adolescents during the growth phase.

Warning and precautions
  1. TARIVID® is not recommended for the treatment of streptococcal infections and other infections caused by organisms susceptible to other long established antibiotics.
  2. Use with caution in patients with reduced renal function; reduced the dose according to the severity of renal dysfunction. Elderly patients may also require a dosage reduction since they may have reduced creatinine clearance.
  3. If shock or shock-like symptoms occur, discontinue the drug and give appropriate treatments.
  4. If hypersensitivity reactions develop during therapy, discontinue the drug.
  5. Gastrointestinal absorption of ofloxacin is markedly reduced by concurrent administration of antacids containing aluminium or magnesium hydroxide. Therefore, TARIVID® should not be taken at the same time, but 1 to 2 hours before or after the antacid.
  6. Unlike ciprofloxacin, pefloxacin and enoxacin, ofloxacin has no influence on the plasma concentration of theophylline.

Adverse reactions
The incidence of ofloxacin-related adverse reactions was 3.3% among nearly 16.000 patients in clinical trials (ranged from 2.5 to 8.5% in various studies).
The most frequent side effects were gastrointestinal symptoms (2.64%), mainly nausea, vomiting, epigastric discomfort, abdominal pain, diarrhea and anorexia. These were followed by CNS effects (0.89%; headache, dizziness and sleep disturbances) and dermatological or hypersensitivity reactions (0.53%, skin eruption, pruritus, rash eczema and itching). The incidence or severity of these various side effects did not appear to be dose related, and serious reactions were rare.

Minor changes in mean laboratory values were not considered clinically significant and were usually attributable to the diseases process, but some cases of eosinophilia were considered possibly drug related. Shock and shock-like symptoms (discomfort, perspiration, dyspnea and hypotension) may occasionally occur.

Dosage and administration
The recommended oral dosage of TARIVID® is as follows (before or after meals);
  1. Urinary tract infections: 100 - 400 mg daily in 1 to 2 divided doses for 1 - 10 days. Severe or complicated infections: up to 600 mg daily and/ or for up to 20 days.
  2. Lower respiratory tract infections: 200 - 600 mg daily in 1 to 3 divided doses for 3 - 10 days. Severe or complicated infections; up to 800 mg daily and/or for up to 20 days. 
  3. Skin and soft tissue infections, Gynecological infections 400 mg daily for 7 days. 
  4. Uncomplicated gonococcal urethritis: a single dose of 100 - 400 mg.
  5. Non-gonococcal urethritis: 400 mg daily for 9 days.

Presentation
Tablet 100 mg: Box of 3 strips x 10 tablets Reg. No. DKL8811608317A1
Tablet 200 mg: Box of 3 strips x 10 tablets Reg. No. DKL8811608317B1
Tablet 400 mg: Box of 3 strips x 10 tablets Reg. No. DKL9311608317C1

Store at room temperature (below 30°C)

ON MEDICAL PRESCRIPTION ONLY

Manufactured by:
PT. KALBE FARMA Tbk.
Bekasi - Indonesia

Under licence of:
Daiichi Pharmaceutical Co., Ltd.
14 - 10, Nihonbashi, 3-Chome,
Chuo-Ku, Tokyo 103 JAPAN

Continue reading...

Monday, October 27, 2014

Invomit

INVOMIT®
TABLET SALUT SELAPUT - INJEKSI

KOMPOSISI:
INVOMIT® 4 Tablet Salut Selaput
Tiap tablet salut selaput mengandung:
Ondansetron HCl dihydrate setara dengan
Ondansetron ........................... 4 mg

INVOMIT® 8 Tablet Salut Selaput
Tiap tablet salut selaput mengandung:
Ondansetron HCl dihydrate setara dengan
Ondansetron ........................... 8 mg

INVOMIT® 4 Injeksi
Tiap ml mengandung:
Ondansetron HCl dihydrate setara dengan
Ondansetron ........................... 2 mg

INVOMIT® 8 Injeksi
Tiap ml mengandung:
Ondansetron HCl dihydrate setara dengan
Ondansetron ........................... 2 mg

FARMAKOLOGI:
Ondansetron adalah antagonis reseptor 5HT3 yang poten dan selektif. Pemberian obat-obat kemoterapi dan radioterapi dapat menyebabkan pelepasan 5HT3 ke dalam usus halus yang akan merangsang refleks muntah dengan mengaktifkan serabut afferen vagal lewat reseptor 5HT3. Ondansetron menghambat dimulainya refleks ini. Aktivasi serabut afferen vagal juga dapat menyebabkan pelepasan 5HT3 dalam area postrema, yang berlokasi di dasar ventrikel keempat, dan ini juga dapat merangsang emesis melalui mekanisme sentral. Karenanya efek Ondansetron dalam penanganan mual dan muntah yang diinduksi oleh kemoterapi dan radioterapi sitotoksik ini disebabkan oleh antagonisme reseptor 5HT3, pada neuron yang berlokasi di sistem saraf pusat maupun di sistem saraf tepi. Pada percobaan psikomotor, Ondansetron tidak mengganggu kinerja. Ondansetron tidak mengganggu konsentrasi prolaktin dalam plasma.

FARMAKOKINETIK:
Konsentrasi puncak dalam plasma dicapai setelah 1,5 jam pemberian Ondansetron per oral. Bioavailabilitas absolut Ondansetron per oral mencapai 60%. Disposisi Ondansetron setelah pemberian per oral ataupun secara intravena sama dengan waktu paruh eliminasi terminal yang mencapai 3 jam, meskipun dapat diperpanjang sampai 5 jam pada penderita usia lanjut. Obat ini secara ekstensif dimetabolisme dan metabolitnya diekskresikan ke dalam feses dan urin. Ikatan protein plasma mencapai 70 - 76 %.

INDIKASI:
Untuk penanganan mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi sitotoksik dan radioterapi serta mual dan muntah setelah operasi

KONTRA INDIKASI :
Hipersensitivitas terhadap Ondansetron dan komponen lainnya.

EFEK SAMPING:
Ondansetron dapat meningkatkan waktu transit usus besar dan dapat menyebabkan konstipasi pada beberapa penderita. Efek samping yang biasanya terjadi adalah sakit kepala, sedasi, diare, sensasi kemerahan atau hangat pada kepala dan epigastrum, dan yang jarang terjadi yaitu peningkatan aminotransferase yang asimptomatik. Jarang dilaporkan adanya reaksi hipersensitif yang cepat.

PERINGATAN DAN PERHATIAN:
Kehamilan
Pada hewan percobaan, Ondansetron tidak bersifat teratogenik. Belum ada percobaan yang dilakukan pada manusia. Sama seperti obat-obat lainnya, sebaiknya Ondansetron tidak digunakan pada kehamilan, terutama pada trimester pertama, kecuali bila keuntungan yang didapat melebihi resiko yang mungkin terjadi.

Wanita menyusui
Percobaan pada tikus membuktikan adanya ekskresi Ondansetron pada air susu. Karenanya ibu-ibu yang mendapat Ondansetron dianjurkan untuk tidak menyusui bayinya.

ATURAN PAKAI:
Dewasa:
Pada kemoterapi yang sangat emetogenik (misalnya pada pemberian Cisplatin):
Mula-mula diberikan injeksi 8 mg Ondansetron intravena secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan dosis infus 1 mg Ondansetron per jam secara kontinyu selama kurang dari 24 jam atau 2 injeksi 8 mg intravena secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit dengan selang waktu 4 jam. Atau bisa juga diikuti dengan pemberian 8 mg peroral tiap 12 jam selama 5 hari.

Pada kemoterapi yang kurang emetogenik (misalnya pada pemberian Cyclophosphamide, Doxorubicin, Carboplatin):
Diberikan Injeksi intravena 8 mg Ondansetron secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, atau diberikan 8 mg Ondansetron per oral 1 - 2 jam sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan 8 mg per oral tiap 12 jam selama 5 hari.

Mual dan muntah akibat induksi oleh radioterapi:
Diberikan 8 mg Ondansetron per oral tiap 12 jam. Dosis pertama sebaiknya diberikan 12 jam sebelum dilakukan radioterapi, Lama pengobatan tergantung pada lamanya pemberian radioterapi.

Anak-anak:
Pengalaman masih terbatas, akan tetapi Ondansetron efektif dan dapat ditoleransi dengan baik oleh anak-anak di atas 4 tahun bila diberikan secara intravena dengan dosis 5 mg/ml selama 15 menit, segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan pemberian 4 mg per oral tiap 12 jam selama 5 hari.

Usia lanjut:
Ondansetron ditoleransi dengan baik pada penderita di atas 65 tahun tanpa mengubah dosis, frekuensi ataupun cara pemberiannya.

Penderita dengan gangguan fungsi ginjal:
Tidak memerlukan penyesuaian dosis harian, frekuensi ataupun cara pemberian

Penderita dengan gangguan fungsi hati:
Klirens Ondansetron berkurang secara bermakna dan waktu paruh serum memanjang secara bermakna pada penderita dengan gangguan fungsi hati yang moderat ataupun yang berat. Pada penderita ini, dosis total harian tidak boleh lebih dari 8 mg.

KEMASAN:
INVOMIT® 4 Tablet Salut Selaput
Dus berisi 3 strip @ 6 tablet salut selaput
Reg. No. DKL0317619817A1
INVOMIT® 8 Tablet Salut Selaput
Dus berisi 3 strip @ 6 tablet salut selaput
Reg. No. DKL0317619817B1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER
SIMPAN DI BAWAH 30°C
TERLINDUNG DARI CAHAYA

INVOMIT® 4 Injeksi
Dus bensi 5 ampul @ 2 ml
Reg. No. DKL0317619943A1

INVOMIT® 8 Injeksi
Dus berisi 5 ampul @ 4 ml
Reg. No. DKL0317619943A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER
SIMPAN DI BAWAH 30°C
TERLINDUNG DARI CAHAYA
JANGAN DISIMPAN DALAM LEMARI PEMBEKU

Diproduksi oleh
PT. Interbat
JI. H.R.M. Mangundiprojo no. 1
Buduran, Sidoarjo-61252
Jawa Timur, Indonesia
Continue reading...
 

Followers

Add to Technorati FavoritesTopOfBlogsobat, info, tablet,syrup, injection, ampul, cream, ointment, solution, blogarama - the blog directoryBlog Directory & Search engineMedicine Blogs - Blog Catalog Blog Directory Health Free Page Rank ToolPowered by  MyPagerank.Net Ping your blog, website, or RSS feed for Free
review http://www.obatinfo.com on alexa.com

Masukkan alamat email anda di bawah ini untuk mendapatkan informasi obat terbaru

   

ObatInfo.com hanya memberikan informasi-informasi yang tertera pada kemasan dan brosur obat serta dari berbagai sumber. Informasi-informasi di ObatInfo.com tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat, saran, konsultasi ataupun kunjungan kepada dokter Anda. Kunjungi dokter anda, bila memiliki masalah kesehatan. ObatInfo.com tidak bertanggung jawab atas segala dampak yang terjadi atas penggunaan/ penyalahgunaan informasi-informasi yang disajikan disini.

ObatInfo.com | all about drugs Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts