Recent Posts

Recent Comments

Monday, October 20, 2014

Aldisa SR

ALDISA® SR
Kapsul Sustained Release

Box Warning
  • Tidak boleh diberikan pada penderita yang peka terhadap obat simpatomimetik lain (misal efedrin, fenilpropanolamin HCl, fenilefrin), penderita tekanan darah tinggi berat dan yang mendapat terapi obat antidepresan tipe penghambat monoamin oksidase (MAO).
  • Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita tekanan darah tinggi atau yang mempunyai potensi tekanan darah tinggi atau stroke seperti pada penderita dengan berat badan berlebih (overweight ) atau penderita lanjut usia.
  • Bila dalam 3 hari gejala-gejala tidak berkurang segera hubungi dokter atau unit pelayanan kesehatan.
  • Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi susah tidur, jantung berdebar dan pusing.

Tiap kapsul sustained release mengandung :
Loratadin5mg
Pseudoefedrin Sulfat               120mg


FARMAKOLOGI
ALDISA® SR adalah kombinasi Loratadin, suatu antihistamin dan Pseudoefedrin Sulfat, suatu nasal dekongestan. Loratadin adalah antihistamin trisiklik yang masa kerjanya panjang dengan aktivitas antagonis selektif pada reseptor histamin-H1 perifer.
Pseudoefedrin Sulfat adalah suatu amin simpatomimetik yang aktif per oral dan bekerja sebagai dekongestan pada mukosa hidung. Pseudoefedrin Sulfat dikenal sebagai obat yang efektif untuk meredakan sumbatan hidung karena rinitis alergi.

INDIKASI
ALDISA® SR diindikasikan untuk mengurangi gejala-gejala hidung tersumbat, bersin, rinorea, pruritus dan lakrimasi yang berhubungan dengan rinitis alergi dan selesma atau influenza. ALDISA® SR hanya diberikan pada keadaan yang sekaligus membutuhkan efek antihistamin dari loratadin dan efek dekongestan dari Pseudoefedrin.


KONTRA-INDIKASI
  • Lihat box warning.
  • Penderita yang hipersensitif atau idiosinkrasi terhadap komponen obat ini.
  • Penderita yang mendapat terapi obat antidepresan tipe penghambat monoamin oksidase (MAO) atau dalam waktu 14 hari setelah menghentikan terapi obat ini dan pasien dengan glaukoma sudut-sempit/ sudut-tertutup, retensi urine, hipertensi berat, penyakit arteri koroner berat dan hipertiroidisme.

EFEK SAMPING
  • Insomnia, mulut kering, sakit kepala dan mengantuk.
  • Efek samping lain yang jarang terjadi meliputi gelisah, pusing, lelah, mual, nyeri abdomen, anoreksia, haus, gatal-gatal, urtikaria, konvulsi, takikardia, rinitis, faringitis, ruam, akne, artralgia, konfusi, disfonia, hiperkinesia, hipoestesia, penurunan libido, tremor, vertigo, rasa panas, hipotensi postural, keringat berlebihan, gangguan mata, sakit telinga, tinitus, gangguan indra pengecap, agitasi, apati, depresi, euforia, paroneiria, nafsu makan bertambah, perubahan kebiasaan buang air besar, dispepsia, eruktasi, hemoroid, perubahan warna lidah, kelainan pada lidah, muntah, abnormalitas fungsi hati yang sementara, dehidrasi, berat badan bertambah, hipertensi, palpitasi, migrain, bronkospasme, batuk, dispnea, epistaksis, kongesti nasal, bersin-bersin, iritasi hidung, disuria, gangguan buang air kecil, poliuria, nokturia, retensi urine, astenia, nyeri punggung, kaki kram, tidak enak badan dan rigor (kaku), alopesia, anafilaksis.

PERHATIAN
  • Obat sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada penderita dengan glaukoma, tukak lambung, stenosis, obstruksi piloroduodenal, penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung iskemik, peningkatan tekanan intraokular, hipertiroidisme, gangguan ginjal atau hipertrofi prostat.
  • Pemakaian pada penderita dengan gangguan hepar sebaiknya dihindari.
  • Penderita dengan gangguan ginjal (GFR ‹ 30 ml/menit) sebaiknya diberikan dosis awal yang lebih rendah (1 kapsul per harj) karena terjadi penurunan bersihan Loratadin dan Pseudoefedrin.
  • Dapat diberikan pada wanita hamil dan menyusui jika manfaatnya lebih besar dibandingkan dengan risiko pada janin dan bayi yang disusui.
  • Keamanan dan efektivitas pada anak di bawah 12 tahun belum dapat ditetapkan.
  • Obat-obat simpatomimetik dapat menyebabkan stimulasi SSP berupa eksitabilitas, konvulsi dan/ atau kolaps kardiovaskular yang disertai hipotensi.
  • Pada penderita usia lanjut (≥ 60 tahun) lebih sering terjadi efek samping amin simpatomimetik seperti: konfusi, konvulsi, halusinasi, depresi SSP dan kematian. Oleh karena itu, hati-hati bila diberikan pada penderita usia lanjut.
  • Pseudoefedrin Sulfat dalam dosis tinggi dapat menyebabkan peningkatan suasana hati (mood), berkurangnya nafsu makan, serta perasaan meningkatnya energi fisik, kapasitas mental dan kewaspadaan. Rasa cemas dan iritabilitas serta lokuasitas (banyak berceloteh) pernah dilaporkan. Penggunaan secara terus menerus dari stimulan SSP mengakibatkan toleransi. Peningkatan dosis pada akhirnya dapat menyebabkan toksisitas. Depresi dapat terjadi setelah penghentian pemberian secara tiba-tiba.

INTERAKSI OBAT
  • Efek antihipertensif dari obat-obat penghambat beta-adrenergik, metildopa, mekamilamin, reserpin dan alkaloid veratrum dapat berkurang oleh obat-obat simpatomimetik.
  • Peningkatan aktivitas pacemaker ektopik dapat terjadi jika Pseudoefedrin digunakan bersama-sama digitalis.
  • Pemberian bersamaan dengan alkohol, loratadin tidak memiliki efek yang mempatensiasi seperti yang diukur dengan studi tampilan psikomator.
  • Pernah dilaporkan terjadi peningkatan kadar Loratadin dalam plasma eetelah penggunaan bersamaan dengan ketokanazol, eritromisin atau simetidin pada penelitian terkendali, tetapi tidak ada perubahan klinis yang bermakna (termasuk ECG). Obat lain yang diketahui menghambat metabolisme hati harus diberikan dengan hati-hati sampai studi interaksi definitif dapat diselesaikan.
  • Bila obat simpatomimetik diberikan pada pasien yang sedang menerima obat penghambat MAO, dapat terjadi reaksi hipertensif termasuk krisis hipertensif.
  • Antihistamin harus dihentikan ± 48 jam sebelum prosedur uji kulit, karena obat ini dapat mencegah atau mengurangi sebaliknya dari reaksi positif menjadi indikator reaktivitas dermal.

DOSIS
Dewasa dan anak-anak ≥ 12 tahun: 1 kapsul, 2 kali sehari.


HARUS DENGAN RESEP DOKTER


OVERDOSIS
  • Gejala dapat bervariasi berupa: depresi SSP (sedasi, apnea, kolaps kardiovaskular) sampai stimulasi SSP (insomnia, halusinasi, tremor atau konvulsi, sampai kematian). Gejala lain dapat berupa euforia, rasa bergairah, takikardia, palpitasi, rasa haus, perspirasi, mual, pusing, tinitus, ataksia, pandangan kabur dan hipertensi/ hipotensi.
  • Penggunaan dalam dosis besar dapat menimbulkan pusing, sakit kepala, mual, muntah, berkeringat, haus, takikardia, nyeri prekordial, palpitasi, kesulitan buang air kecil, otot lemah, tegang, cemas, gelisah, insomnia. Banyak pasien memperlihatkan efek toksik dengan delusi dan halusinasi. Beberapa diantaranya mengalami kardiak aritmia, kolaps sirkulasi, konvulsi, koma dan gagal pernafasan.
  • Pengobatan : Lakukan induksi muntah meskipun emesis telah terjadi spontan. Bila tidak muntah lakukan kuras lambung.

KEMASAN
Dus isi 5 strip @ 10 kapsul.
No. Reg.: DKL0522240003A1

PENYIMPANAN
Simpan pada suhu kamar (25° - 30° C).

Dibuat oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia
Continue reading...

Sunday, October 19, 2014

Kalnex

KALNEX®
Tranexamic acid

Komposisi
Tranexamic acid kapsul:
Tiap kapsul mengandung Tranexamic acid 250 mg

Tranexamic acid tablet:
Tiap tablet mengandung Tranexamic acid 500 mg

Tranexamic acid injeksi:
Tiap ml injeksi (5% w/v) mengandung Tranexamic acid 50 mg

Tranexamic acid injeksi:
Tiap ml injeksi (10% w/v) mengandung Tranexamic acid 100 mg


Farmakologi
  • Aktivitas antiplasminik: KALNEX® menghambat aktivitas dari aktivator plasminogen dan plasmin. Aktivitas antiplasminik dari KALNEX® telah dibuktikan dengan berbagai percobaan "in vitro" penentuan aktivitas plasmin dalam darah dan aktivitas plasma setempat, setelah diberikan pada tubuh manusia.
  • Aktivitas hemostatis: KALNEX® mencegah degradasi fibrin, pemecahan trombosit, peningkatan kerapuhan vascular dan pemecahan faktor koagulasi. Efek ini terlihat secara klinis dengan berkurangnya jumlah perdarahan, berkurangnya waktu perdarahan dan lama perdarahan.

Indikasi
  • Untuk fibrinolisis lokal seperti epistaksis, prostatektomi, konisasi serviks.
  • Edema angioneurotik herediter.
  • Perdarahan abnormal sesudah operasi.
  • Perdarahan sesudah operasi gigi pada penderita hemofilia.

Dosis dan cara pemberian
KALNEX® 250 mg kapsul:
Dosis lazim secara oral untuk dewasa: sehari 3 - 4 kali, 1 - 2 kapsul.

KALNEX® 500 mg tablet:
Dosis lazim secara oral untuk dewasa: sehari 3 - 4 kali, 1 tablet.

KALNEX® 50 mg injeksi:
Sehari 1 - 2 ampul (5 - 10 ml) disuntikkan secara intravena atau intramuskular, dibagi dalam 1 - 2 dosis. Pada waktu atau setelah operasi, bila diperlukan dapat diberikan sebanyak 2 - 10 ampul (10 - 50 ml) dengan cara infus intravena.

KALNEX® 100 mg Injeksi:
2,5 - 5 ml per hari disuntikkan secara intravena atau intramuskular, dibagi dalam 1 - 2 dosis. Pada waktu atau sesudah operasi, bila perlu, 5 - 25 ml diberikan dengan cara infus intravena:

Dosis KALNEX® harus disesuaikan dengan keadaan pasien masing-masing sesuai dengan umur atau kondisi klinisnya.

Peringatan dan perhatian

  • Bila diberikan secara intravena, dianjurkan untuk menyuntikkannya perlahan-lahan seperti halnya pemberian/penyuntikan dengan sediaan kalsium (10 mL/1-2 menit).
  • Hati-hati digunakan pada penderita insufisiensi ginjal karena resiko akumulasi.
  • Pedoman untuk pasien/penderita insufisiensi ginjal berat.

    Kreatinin serumDosisFrekuensi dosis
    120 - 250 μmol/L2 x sehari
    250 - 500 μmol/L15 mg/kg BBsetiap 24 jam
    › 500 μmol/L7,5 mg/kg BBsetiap 24 jam
  • Tranexamic acid tidak diindikasikan pada hematuria yang disebabkan oleh parenkim renal, pada kondisi ini sering terjadi presipitasi fibrin dan mungkin memperburuk penyakit.
  • Tranexamic acid digunakan pada wanita hamil hanya jika secara jelas diperlukan.
  • Hati-hati diberikan pada ibu menyusui untuk menghindari resiko pada bayi.

Efek samping
  • Gangguan-gangguan gastrointestinal, mual, muntah-muntah, anoreksia, pusing, eksantema dan sakit kepala dapat timbul pada pemberian secara oral. Gejala-gejala ini menghilang dengan pengurangan dosis atau penghentian pengobatannya.
  • Dengan injeksi intravena yang cepat dapat menyebabkan pusing dan hipotensi.

Interaksi obat
Larutan injeksi Tranexamic acid jangan ditambahkan pada tranfusi atau injeksi yang mengandung penisillin.

Kemasan
KALNEX® Kapsul (250):
Dos berisi 10 strip x 10 kapsul
Reg. No. DKL9111614301A1

KALNEX® Tablet (500):
Dos berisi 10 strip x 10 tablet
Reg. No. DKL9111614217A1

KALNEX® Injeksi (5% w/v) 5 ml :
Dos berisi 10 ampul
Reg. No. DKL9111614143A1

KALNEX® Injeksi (10% w/v) 5 ml:
Dos berisi 10 ampul
Reg. No. DKL9111614143B1

Simpan di bawah suhu 30°C.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER.

PT KALBE FARMA Tbk.
Bekasi - Indonesia
Continue reading...

Saturday, October 18, 2014

Interbi

INTERBI®
TABLET - KRIM

KOMPOSISI
INTERBI® Tablet
Tiap tablet mengandung:
Terbinafine hydrochloride setara dengan
Terbinafine ..... 250 mg

INTERBI® Krim
Tiap gram krim mengandung
Terbinafine hydrochloride ..... 10 mg

KHASIAT:
Terbinafine adalah suatu alilamin yang mempunyai aktivitas antijamur dengan spektrum luas. Dalam kadar rendah, Terbinafine bersifat fungisidal terhadap dermatofita, kapang dan jamur dimorfik tertentu. Aktifitas terhadap ragi bersifat fungisidal atau fungistatik tergantung dari spesiesnya.
Terbinafine secara spesifik mempengaruhi biosintesis sterol jamur pada tahap dini. Hal ini menyebabkan kematian sel jamur. Terbinafine bekerja dengan menghambat enzim skualen epoksidase di dalam membran sel jamur. Enzim skualen epoksidase ini tidak mempunyai hubungan dengan sistem sitokrom P-450. Terbinafine tidak mempengaruhi metabolisme hormon atau obat-obat lain.
Jika diberikan secara oral, obat akan ditumpuk di jaringan kulit atau kuku dengan kadar yang sesuai dengan aktivitas fungisidalnya.

FARMAKOKINETIK:
Tablet: Suatu dosis oral Terbinafine 250 mg secara tunggal menghasilkan kadar puncak plasma 0,8 mg/l 2 jam setelah pemberian. Total klirens plasma Terbinafine sekitar 1250 ml/menit dan waktu paruh eliminasi plasma 11 sampai 16 jam. Bioavailabilitas Terbinafine tidak dipengaruhi oleh makanan. Terbinafine terikat kuat pada protein plasma ( 99 % ). Obat ini secara cepat berdifusi melalui jaringan dermis dan tertumpuk di dalam lapisan lipofilik stratum korneum.
Terbinafine juga disekresi ke dalam sebum, sehingga menghasilkan kadar yang tinggi di dalam folikel rambut, rambut dan dalam kulit yang kaya akan sebum. Ditemukan juga bukti bahwa Terbinafine didistribusi ke dalam jaringan kuku pada minggu-minggu pertama pemberian terapi
Biotransformasi Terbinafine menghasilkan metabolit yang tidak mempunyai aktifitas antijamur dan diekskresikan terutama melalui urin.
Tidak ada bukti-bukti terjadinya akumulasi pada orang dengan hati dan ginjal normal. Tidak ada perubahan farmakokinetik yang berhubungan dengan usia, tetapi kecepatan eliminasinya dapat berkurang pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati, sehingga menghasilkan kadar Terbinafine dalam darah lebih tinggi.

Krim: Pada penggunaan topikal, penetrasi Terbinafine ke dalam sirkulasi sistemik minimal (‹ 5 % dari dosis).

INDIKASI
Tablet: Infeksi jamur pada kulit dan kuku yang disebabkan oleh dermatofita seperti Trichophyton (misalnya T rubrum, T mentagrophytes. T verrucosum, T violaceum), Microsporum canis dan Epidermophyton floccosum
Terbinafine oral diindikasikan untuk pengobatan kurap (tinea corparis, tinea cruris, dan tinea pedis) jika terapi oral dianggap tepat berdasarkan tempat, beratnya atau luasnya infeksi
Onychomycosis (infeksi Jamur pada kuku) yang disebabkan oleh jamur dermatofita
Krim: Infeksi Jamur kulit yang disebabkan oleh tinea corporis, tinea cruris. tinea pedis, Trichophyton (T rubrum, T mentagrophyles, T verrucosum, T violaceum), Microsporum canis dan Epidermophyton floccosum.
Untuk pengobatan kandidiasis pada kulit dan pitiriasis versikolor.

KONTRAINDIKASI
Penderita yang hipersensitif terhadap Terbinafine dan zat tambahan yang terkandung dalam tablet atau krim ini

EFEK SAMPING
Tablet: Efek samping ringan sampai sedang dan bersifat sementara. Yang paling sering timbul adalah gejala saluran cerna (rasa penuh, nafsu makan berkurang, pencernaan terganggu, mual, nyeri abdominal ringan, diare) atau reaksi alergi kulit yang tidak serius (ruam kulit, urtikaria)
Pada kasus tertentu pernah dilaporkan adanya reaksi alergi kulit yang serius (seperti: sindroma Stevens-Johnson. nekrolisis epidermis toksis). Jika terjadi ruam kulit yang progresif, pengobatan dengan Terbinafine harus dihentikan
Pada kasus tertentu pernah dilaporkan adanya gangguan hematotogi, misalnya: neutropenia atau trombositopenia.

Krim: Pada penggunaan topikal, kemungkinan terjadinya efek samping sangat kecil, seperti iritasi lokal, eritema, rasa terbakar dan kering pada kulit

PERINGATAN / PERHATIAN
Penderita gangguan fungsi hati dan ginjal.
Tablet: Pasien dengan gangguan fungsi hati berat atau gangguan fungsi ginjal (klirens kreatinin kurang dari 50 ml/menit atau kreatinin serum lebih dari 300 μmol/L), dosis dapat dikurangi menjadi setengah dosis normal

Penggunaan pada usia lanjut.
Dosis pemakaian tidak berbeda dengan penderita dewasa. Dosis harus diturunkan menjadi setengah dari dosis normal, jika secara signifikan ditemukan kerusakan hepar dan ginjal
Tidak ada informasi yang menunjukkan hubungan antara usia dengan efek Terbinafine pada penderita usia lanjut

Penggunaan pada anak-anak
Pengalaman penggunaan Terbinafine oral pada anak-anak tidak ada dan penggunaannya tidak dianjurkan.
Keamanan dan efektifitas Terbinafine pada anak-anak di bawah 12 tahun belum dapat dipastikan.

Kehamilan dan laktasi
Karena pengalaman klinis pada wanita hamil tidak ada, jangan digunakan selama kehamilan kecuali jika keuntungan yang didapat melebihi resikonya
Terbinafine diekskresikan dalam air susu ibu, karena itu tidak boleh digunakan selama menyusui.
Jika digunakan secara topikal, hanya sebagian kecil obat yang diabsorpsi melalui kulit sehingga efeknya pada bayi tidak diketahui

INTERAKSI OBAT
Terbinafine tidak mempunyai potensi untuk menghambat atau meningkatkan klirens obat-obat yang dimetabolisme melalui sitokrom P-450 (misalnya Cyclosporin, Tolbutamide, kontrasepsi oral). Meskipun demikian, klirens Terbinafine dalam plasma dapat ditingkatkan oleh obat-obat yang menginduksi metabolisme (seperti Rifamycin) dan dapat dihambat oleh obat-obat yang menghambat sitokrom P-450 (seperti Cimetidine). Jika pemberian bersama dengan obat-obat tersebut diperlukan, dosis Terbinafine perlu disesuaikan

ATURAN PAKAI:
Lamanya pengobatan bervariasi, tergantung dari indikasi dan beratnya infeksi.
Tablet: 250 mg sekali sehari
Infeksi Kulit:
Pada umumnya lama pengobatan adalah sebagai berikut:
Tinea pedis (jenis interdigital, plantar/moccasin): 2 - 6 minggu.
Tinea corporis, cruris: 2 - 4 minggu.
Hilangnya tanda dan gejala infeksi secara lengkap baru terlihat dalam beberapa minggu setelah pengobatan

Onychomycosis:
Untuk sebagian pasien, lama pengobatan terbaik adalah antara 6 minggu sampai 3 bulan. Pada infeksi jamur pada kuku, efek klinis optimal baru terlihat beberapa bulan setelah jamur diberantas dan obat dihentikan. Hal ini berhubungan dengan waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jaringan kuku yang sehat
Krim: Terbinafine krim dioleskan 1 - 2 kali sehari pada kulit yang terinfeksi dan daerah sekitarnya secara tipis dengan gosokan lembut. Sebelum krim dioleskan, daerah yang terinfeksi dicuci dan dikeringkan dengan hati-hati
Umumnya lamanya pengobatan sebagai berikut:
Tinea corporis/cruris dan kandidiasis pada kulit: 1 - 2 minggu, tinea pedis 2 - 4 minggu dan pitiriasis versicolor 2 minggu.
Hilangnya gejala klinis biasanya terjadi dalam beberapa hari. Penggunaan tidak teratur atau penghentian yang terlalu dini dapat menimbulkan resiko kekambuhan. Jika tidak terjadi tanda-tanda perbaikan klinis setelah penggunaan selama 2 minggu maka diagnosa harus ditegakkan kembali.

KEMASAN:
INTERBI® Tablet
Kotak berisi 2 strip @ 6 tablet
Reg. No.: DKL0217617410A1

INTERBI® Krim
Tube isi 5 gram netto
Reg. No.: DKL0217617529A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

SIMPAN DI BAWAH 30°C
TERLINDUNG DARI CAHAYA
JANGAN DISIMPAN DALAM LEMARI PEMBEKU

Diproduksi oleh:
PT. Interbat
Jl. H.R.M. Mangundiprojo no. 1
Buduran, Sidoarjo-61252
Jawa Timur, Indonesia

Continue reading...

Friday, October 17, 2014

Simarc 2

Simarc® 2
Warfarin Sodium 2 mg
TABLET

KOMPOSISI
Tiap tablet mengandung:
Warfarin Sodium ............ 2 mg

FARMAKOLOGI
Simarc® 2 dan antikoagulan golongan kumarin lainnya bekerja dengan cara menekan sintesis di hati beberapa faktor yang berperan aktif dalam mekanisme koagulasi yang terjadi pada penyakit seperti thromboemboli. Secara in vivo, obat bekerja menekan secara berurutan faktor-faktor VII, IX, X dan II yang terlibat pada proses pembekuan darah. Daya penekanan ini tergantung dosis yang diberikan. Antikoagulan tidak memiliki efek langsung terhadap penyumbatan pembuluh (thrombus) dan tidak pula memperbaiki jaringan yang rusak akibat iskemia, tetapi dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah lebih lanjut, agar efek komplikasi dari thromboemboli yang berbahaya dapat dihindari.

INDIKASI
Simarc® 2 diindikasikan untuk pencegahan (prophylaxis) dan pengobatan thrombosis vena serta dampak lanjutan yang ditimbulkannya. Untuk pengobatan penyakit yang berkenaan dengan gangguan penyumbatan koroner.

DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
Dosis induksi
Untuk induksi, dimulai dengan pemberian 10-15 mg/hari. Setelah itu (setelah 2 atau 3 hari) pemberian diatur sesuai dengan hasil pemeriksaan waktu prothrombin. Hindari pemakaian dosis berlebihan untuk mencegah peningkatan waktu prothrombin berlebihan.
Sebagai alternatif dapat digunakan dosis sebagai berikut:
  • 40 - 60 mg per hari untuk orang dewasa atau,
  • 20 - 30 mg per hari untuk orang tua dan atau penderita yang lemah, hanya untuk 1 dosis
Dosis pemeliharaan
Dosis pemeliharaan diberikan: 2 - 10 mg/hari
Dosis individual dan frekuensi pemberian disesuaikan dengan respon prothrombin penderita.

Jangka waktu pengobatan
Jangka waktu pengobatan ditentukan secara individual untuk tiap penderita. Secara umum, terapi antikoagulan harus dilanjutkan hingga thrombosis dan emboli yang berbahaya hilang.

PERINGATAN DAN PERHATIAN
Peringatan
Penggunaan warfarin hendaknya dihentikan apabila diduga menimbulkan nekrosis dan terapi menggunakan heparin bisa dijadikan sebagai alternatifnya. Pemberian obat harus dikontrol secara periodik dengan cara penentuan waktu prothrombin atau uji koagulasi yang sesuai.
  • Untuk wanita menyusui: antikoagulan golongan kumarin didistribusikan ke dalam air susu dan dapat menimbulkan keadaan prothrombinopenik pada anak yang menyusu.
  • Trauma: dapat menimbulkan pendarahan internal.
  • Defisiensi protein C akibat gangguan klinis atau turunan. Jika penderita atau anggota keluarga penderita mempunyai sejarah pernah mengalami thromboemboli karena defisiensi protein C, maka resiko timbulnya nekrosis pada penderita akibat penggunaan warfarin akan meningkat.
  • Penggunaan secara bersamaan antikoagulan dan streptokinase atau urokinase tidak dianjurkan dan mungkin menyebabkan resiko keracunan.
  • Faktor-faktor berikut baik masing-masing maupun bersama-sama dapat memperlambat waktu prothrombin dari warfarin : karsinoma, penyakit kollagen, gagal jantung kongesti, diare, peningkatan suhu tubuh, gangguan hati-infeksi hepatitik, hipertiroidisme, jaundice, keadaan kurang gizi, defisiensi vitamin K, steatorrhea.
  • Faktor-faktor berikut baik masing-masing maupun secara kombinasi dapat mempersingkat waktu prothrombin : edema, resistensi terhadap terapi turunan kumarin, hiperlipidemia, hipertiroidisme.

Perhatian:
Selama terapi obat sangat perlu dilakukan pemeriksaan waktu prothrombin atau uji koagulasi darah yang lain.


EFEK SAMPING
Efek samping yang mungkin timbul pada penggunaan Simarc® 2 adalah:
  • Hemorrhage jaringan atau organ, seperti hemorrhage adrenal, hemorrhage indung telur pada saat ovulasi.
  • Kejang atau kerusakan usus akibat hemorrhage jaringan sub mukosa.
  • Terjadinya pendarahan saluran uterin tanpa gangguan aliran darah menstruasi.
  • Nekrosis kulit dan jaringan lain.
  • Pendarahan yang terjadi bila waktu prothrombin dalam kisaran dosis terapeutik menunjukkan adanya suatu lesi lain yang tidak terduga, misal: tumor, ulser dan lain-lain.
  • Efek samping yang jarang terjadi terdiri dari: alopesia, urtikaria, dermatitis, demam, mual, diare, kram perut, mikroemboli kolesterol sistemik, "cholestatic hepatic injury" dan reaksi hipersensitivitas.
  • Priapisme dihubungkan dengan pemberian antikoagulan, tetapi hubungan penyebab belum jelas.

KONTRAINDIKASI
Antikoagulan tidak boleh diberikan pada penderita dengan keadaan seperti berikut:
  • Wanita hamil, Simarc® 2 tidak boleh diberikan pada wanita hamil, karena obat melintasi sawar plasenta dan bisa menimbulkan hemorrhage fatal pada janin dalam uterus.
  • Kecenderungan hemorrhage dan dyscrasia darah yang tinggi.
  • Baru menjalani pembedahan: sistem saraf pusat, mata pembedahan trumatik dengan luka di permukaan cukup besar.
  • Pada keadaan mudah mengalami pendarahan karena tukak lambung atau mudah mengalami pendarahan di bagian: saluran cerna, saluran kelamin atau saluran pernafasan.
  • hemorrhage serebrovaskular, perikarditis dan efusi perikardial.
  • sedang mengalami diagnosa yang dapat menimbulkan pendarahan yang tidak terkontrol.
  • hipertensi, endokarditis bakteri subakut, luka terbuka, kanker viscelar, defisiensi vitamin K dan beberapa penyakit hati dan ginjal.
  • "threatened abortion" , eklampsia dan pre-eklampsia.
  • pembengkakkan pembuluh darah otak, dissecting aorta. 
  • major regional, lumbar block anaesthesia.

INTERAKSI OBAT
  • Faktor berikut baik masing-masing maupun bersama-sama, dapat memperlambat waktu prothrombin dari warfarin: alkohol, allopurinol, asam aminosalisilat, steroid anabolik, antibiotik, kloramfenikol, klorpropamida, simetidin, obat-obat yang mempengaruhi elemen darah, asetaminofen, amiodarone HCl, anestetik inhalasi, bromelain, chenodiol, kloralhidrat," chymotripsin" ,klofibrat, dextran, dextrothyroxine, diazoxide, diflunisal, diuretik, disulfiram, asam etakrinik, fenoprofen, antibiotik fluoroquinolone, glucagon, obat hepatotoksik, ibuprofen, indometasin, vaksin virus influenza, lovastatin, asam mefenamat, metildopa, metilfenidat, metronidazole, miconazole, penghambat monoamino oksidase, moricizine HCl, asam nalidiksat, naproxen, narkotik, pentoksifiline, fenilbutazon, fenitoin, propafenon, pyrazolone, quinidine, quinine, ranitidina, salisilat, sulfinpyrazone, sulfonamide (" long acting"), sulindae, tamoksifen, obat tiroid, tolbutamida, trimetoprime/sulfametoxazol.
  • Faktor-faktor berikut baik masing-masing maupun secara kombinasi dapat mempersingkat waktu prothrombin: ACTH, steroid adrenokorteks, alkohol, antasida, antihistamin, fenobarbital dan turunan barbiturat lainnya, karbamazepin, klordiazepoksida, kolestiramin, dosis warfarin yang rendah, makanan yang banyak mengandung vitamin K, diuretik griseofulvin, haloperidol, kontrasepsi oral, ranitidina, vitamin C, aminoglutetimida, ethochlorvynol, gluthetimida, meprobamate, moricizine HCl, nafcillin, paraldehyda, primidone, rifampisin, sucralfate, trazodone.

PENYIMPANAN
Simpan pada suhu di bawah 30°C, dalam wadah tertutup rapat terhindar dari cahaya.

KEMASAN
Dus isi 10 strip @ 10 tablet
No. Reg. DKL9531511110A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Diproduksi oleh:
PT. PRATAPA NIRMALA
Tangerang - Indonesia
Continue reading...

Thursday, October 16, 2014

Intervask

INTERVASK®
TABLET

KOMPOSISI:
INTERVASK® 5 Tablet
Tiap tablet mengandung:
Amlodipine besylate setara dengan
Amlodipine .................... 5 mg

INTERVASK® 10 Tablet
Tiap tablet mengandung:
Amlodipine besylate setara dengan
Amlodipine .................... 10 mg

CARA KERJA:
Amlodipine adalah inhibitor influks kalsium (slow channel blocker atau antagonis ion kalsium) dan menghambat influks ion-ion kalsium transmembran ke dalam jantung dan otot polos.

INDIKASI:
Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan hipertensi dan dapat digunakan sebagai bahan tunggal untuk mengontrol tekanan darah pada sebagian besar penderita. Penderita-penderita yang tidak cukup terkontrol bila hanya menggunakan obat antihipertensi tunggal dapat lebih menguntungkan dengan pemberian Amlodipine yang dikombinasikan dengan diuretik thiazide, inhibitor β-adrenoreceptor, atau inhibitor angiotensin-converting enzyme.
Amlodipine juga digunakan untuk pengobatan Prinzmetal variant angina dan chronic stable angina pectotis. Amlodipine dapat digunakan sendiri sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan obat-obat antiangina lainnya.

KONTRAINDIKASI :
Pasien yang sensitif terhadap Dihydropyridine. Syok kardiogenik, aortic stenosis yang nyata secara klinik, angina tidak stabil (kecuali Prinzmetal angina).

EFEK SAMPING:
Amlodipine ditoleransi dengan baik. Pada penelitian klinik dengan kontrol plasebo yang mencakup penderita dengan hipertensi dan angina, efek samping yang umum terjadi adalah sakit kepala, edema, lelah, mengantuk, mual, sakit perut, flushing, jantung berdebar, dan pusing.
Tidak ada kelainan-kelainan tes laboratorium yang signifikan secara klinis yang berkaitan dengan Amlodipine.


PERINGATAN / PERHATIAN:
  • Penggunaan pada Penderita dengan Kegagalan Fungsi Hati: Seperti semua kalsium antagonis, waktu paruh Amlodipine lebih panjang pada penderita dengan kegagalan fungsi hati dan rekomendasi dosis belum ditetapkan. Sebaiknya perlu perhatian khusus penggunaan obat ini pada penderita dengan kegagalan fungsi hati.
  • Penggunaan pada Penderita dengan Kegagalan Ginjal: Amlodipine sebagian besar dimetabolisme menjadi metabolit inaktif dimana 10% diekskresikan dalam bentuk utuh melalui urin. Perubahan-perubahan kadar Amlodipine dalam plasma tidak ada korelasi dengan derajat kegagalan ginjal. Amlodipine dapat digunakan pada penderita tersebut dengan dosis normal. Arnlodipine tidak dapat didialisis
  • Penggunaan pada Penderita Kegagalan Jantung Kongestif : Secara umum, calcium channel blocker harus digunakan dengan hati-hati pada penderita kegagalan jantung.
  • Kehamilan dan Menyusui: Keamanan penggunaan Amlodipine pada ibu hamil dan menyusui belum dibuktikan. Untuk itu, penggunaan pada ibu hamil dan menyusui hanya direkomendasikan bila tidak ada alternatif lain yang lebih aman dan bila penyakitnya itu sendiri membawa resiko yang lebih besar terhadap ibu dan anak.
  • Penggunaan pada Penderita Lanjut Usia: Ada beberapa fakta bahwa usia mempengaruhi profil farmakokinetik Amlodipine yaitu meningkatnya konsentrasi dalam plasma dan waktu paruh yang lebih panjang pada subyek lanjut usia. Meskipun demikian, tidak ada peringatan khusus untuk kelompok ini.

INTERAKSI OBAT:
Amlodipine aman diberikan bersama-sama dengan diuretik thiazide, α-blocker, β-blocker, inhibitor angiotensin-converting enzyme, long-acting nitrat, nitroglycerine sublingual, obat-obat antiinflamasi non steroid, antibiotika, dan obat hipoglikemik oral.
Pada penelitian khusus menyebutkan bahwa pemberian Amlodipine bersama-sama Digoxin tidak mengubah kadar Digoxin dalam serum dan klirens renal Digoxin pada sukarelawan normal, dan pemberian bersama-sama dengan Cimetidine tidak mengubah farmakokinetika Amlodipine.
Data in-vitro dari penelitian dengan plasma manusia menyebutkan bahwa Amlodipine tidak mempunyai efek pada ikatan protein dari obat-obat yang diuji (Digoxin, Phenytoin, Warfarin atau Indomethacin).

ATURAN PAKAI:
Untuk hipertensi maupun angina, dosis awal adalah 5 mg Amlodipine satu kali sehari, dapat ditingkatkan sampai dosis maksimum 10 mg tergantung respon pasien secara individual dan berat penyakit.
Pasien bertubuh kecil, pasien yang lemah atau pasien lanjut usia, atau pasien dengan gagal fungsi hati dapat dimulai dengan dosis 2,5 mg Amlodipine satu kali sehari dan dosis ini dapat digunakan ketika Amlodipine ditambahkan dengan terapi antihipertensi lain.
Dosis yang dianjurkan untuk chronic stable atau angina vasospastik adalah 5-10 mg, dan dosis yang lebih rendah untuk pasien lanjut usia dan pasien gagal fungsi hati.
Tidak diperlukan penyesuaian dosis Amlodipine pada pemberian bersama-sama dengan diuretik thiazide, β-blocker dan inhibitor angiotensin-converting enzyme.
Untuk anak-anak: Tidak ada penelitian penggunaan Amlodipine pada anak-anak.

OVERDOSIS:
Pada manusia, penelitian mengenai overdosis masih terbatas. Dari data yang ada menunjukkan bahwa overdosis dapat menyebabkan vasodilatasi perifer yang berlebihan dengan tanda selanjutnya berupa hipotensi sistemik yang lebih lama. Hipotensi yang signifikan secara klinik karena overdosis Amlodipine memerlukan dukungan kardiovaskular aktif termasuk pemantauan jantung dan fungsi pernapasan, peninggian anggota badan, dan perhatian terhadap volume cairan sirkulasi dan pengeluaran urin. Bahan vasokonstriktor dapat membantu memulihkan tegangan vaskular dan tekanan darah, diberikan bila tidak ada kontraindikasi terhadap penggunaannya. Calcium gluconate intravena dapat bermanfaat dalam membalikkan efek penghambatan kalsium channel, Karena Amlodipine sebagian besar terikat protein, dialisis tidak menguntungkan.

KEMASAN:
INTERVASK® 5 Tablet
Kotak berisi 3 strip @ 10 tablet
Reg. No.: DKL0717622110A1

INTERVASK® 10 Tablet
Kotak bensi 3 strip @ 10 tablet
Reg. No.: DKL0717622110B1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

SIMPAN DI BAWAH 30°C
TERLINDUNG DARI CAHAYA

Diproduksi oleh:
PT. Interbat
Jl. H.R.M. Mangundiprojo no. 1
Buduran, Sidoarjo-61252
Jawa Timur, Indonesia
Continue reading...
 

Followers

Add to Technorati FavoritesTopOfBlogsobat, info, tablet,syrup, injection, ampul, cream, ointment, solution, blogarama - the blog directoryBlog Directory & Search engineMedicine Blogs - Blog Catalog Blog Directory Health Free Page Rank ToolPowered by  MyPagerank.Net Ping your blog, website, or RSS feed for Free
review http://www.obatinfo.com on alexa.com

Masukkan alamat email anda di bawah ini untuk mendapatkan informasi obat terbaru

   

ObatInfo.com hanya memberikan informasi-informasi yang tertera pada kemasan dan brosur obat serta dari berbagai sumber. Informasi-informasi di ObatInfo.com tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat, saran, konsultasi ataupun kunjungan kepada dokter Anda. Kunjungi dokter anda, bila memiliki masalah kesehatan. ObatInfo.com tidak bertanggung jawab atas segala dampak yang terjadi atas penggunaan/ penyalahgunaan informasi-informasi yang disajikan disini.

ObatInfo.com | all about drugs Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts