Recent Posts

Recent Comments

Sunday, December 27, 2009

Encephabol

Encephabol®
Pyritinol Dihydrochloride Monohydrate
Encephalotropik


Encephabol adalah obat encephalotropik. Obat ini meningkatkan metabolisme otak dan transmisi kolinergik scntral dan menormalkan mikrosirkulasi otak.

Komposisi
Tiap Encephabol tablet salut gula mengandung Pyritinol Dihydrochloride Monohydrate 100 mg.
1 sendok takaran (5ml) Encephabol liquid mengandung Fyritinol 80,5 mg yang setara dengan Pyritinol DihydrochlorideMonohydrate 100mg (= 1 Encephabol tablet salut gula). Pengganti gula: Sorbitol.

Mekanisme kerja
Encephabol memberi pengaruh yang bermanfaat pada berbagai bagian metabolisme neuron, mempertinggi aktifitas kolinergik sentral dan melindungi sel-sel saraf pada gangguan otak, misalnya hypoxia.
Encephabol menormalkan aliran darah dan menaikkan aliran darah pada bagian otak yang ischemik.
Encephabol meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan bagian kortikal dan sub-kortikal otak dan memperbaiki gejala klinis yang paling penting pada kerusakan fungsi otak.

Indikasi
Untuk keadaan gangguan sirkulasi serebral misalnya :
Keadaan setelah trauma otak, keadaan pasca bedah otak, perdarahan otak, proses degenerasi otak, pencegahan terhadap keadaan konfusi dari postnarkotik, keadaan anoxia otak (misalnya diikuti oleh denyut jantung berhenti).

Takaran dan cara pemakaian
Tablet salut gula:
Dewasa : 2 tablet salutgula 3 kali sehari
Anak-anak(6-15tahun) : 1 tablet salut gula 3 kali sehari
Liquid:
Bayi dan anak di bawah 6 tahun : ½ sampai 2 sendok takaran sehari
Anak-anak(6-15tahun) : 1 sendok takaran 3 kali sehari
Dewasa : 2sendok takaran 3 kali sehari

Untuk menghindari gangguan tidur, anak-anak jangan diberikan dosis terakhir untuk hari itu pada sore atau petang hari.
Tablet sebaiknya ditelan utuh bersama dengan sedikit minuman pada waktu atau sesudah makan.
Karena masa penyembuhan perlahan-lahan, masa pengobatannya sekurang-kurangnya selama 6-8 minggu. Pada penyakit yang kronis pengobatannya bisa dilanjutkan dalam waktu yang lebih lama.

Efek samping
Meskipun jarang terjadi, tetapi pernah dijumpai berbagai macam reaksi alergi, terutama bercak-bercak merah pada kulit, suhu badan meningkat; gangguan pada saluran pencernaan dan hati; gangguan indera pengecap; gejala hipereksitasi; reaksi kulit menyerupai pemphigus dan lichen planus.
Penderita "rheumatoid arthritis" menunjukkan kecenderungan yang lebih besar terhadap pengaruh yang tidak dikehendaki dari pengobatan Pyritinol. Lagipula, pada pasien-pasien tersebut efek samping khas dari obat-obat yang menyerupai penicillamine (misalnya proteinuria, penurunan jumlah platelet dan sel darah putih)pernah teramati walaupun sangat jarang.
Oleh karena itu harus dilakukan pengecekan urine dan darah secara teratur pada pasien-pasien tersebut.
Jika timbul efek samping, pengobatan sebaiknya dihentikan dan dikonsultasikan dengan dokter.

Kontraindikasi
Pada penderita "rheumatoid arthritis" harus diperhatikan kontraindikasi berikut ini; gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat; perubahan yang serius pada penghitungan darah, penyakit-penyakit 'autoimmune': Lupus erythematosus, myasthenia, pemphigus, dan sejarah kasus yang sehubungan dengan penyakit di atas.
Liquid : Karena mengandung sorbitol, jangan diberikan pada pasien yang tidak tahan terhadap fruktosa.

Interaksi obat
Pada pasien dengan "rheumatoid arthritis" yang diobati dengan penicillamine, tioproninc, preparat emas atau levamisol, pemberian bersamaan dengan pyritinol dapat memperkuat efek samping obat-obat diatas.

Kemasan
Tablet salut gula: Kotak berisi 10x 10 tablet salut gula dalam blister
Liquid: Botol 100 ml

Penyimpanan
Tablet salut gula: Simpanlah di tempat yang sejuk dan kering
Liquid: Simpanlahdi tempat yang sejuk

Dibuat oleh
PT.Merck Tbk., Jakarta
dengan lisensi
Merck KGaA, Jerman

No. Reg.
Tablet salut gula: DL2011682
Liquid: DL2011683-l
Continue reading...

Odace

ODACE®
Lisinopril
Tablet


KOMPOSISI:
Tiap tablet ODACE mengandung :
lisinopril dihydrate ................. 10,89 mg
setara dengan lisinopril anhydrate 10,00 mg

FARMAKOLOGI :
Lisinopril adalah penghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE) yang berperan dalam pembentukan angiotensin II suatu vasokonstriktor kuat yang merangsang sekresi aldosteron. Dengan penghambatan produksi angiotensin II maka terjadi penurunan resistensi sistemik melalui penghambatan vasokonstriksi dan pengurangan retensi cairan akibat penurunan sekresi aldosteron.
Lisinopril mulai bekerja dalam waktu 2 jam setelah pemberian oral, konsentrasi puncak dalam plasma tercapai setelah 7 jam dan efeknya berlanjut 24 jam setelah dosis tunggal harian. Lisinopril tidak dimetabolisme di hati dalam jumlah yang nyata, ikatan plasma protein hampir tidak ada. Diekskresikan dalam bentuk tidak berubah dalam urine.

INDIKASI:
  • Hipertensi sedang. Dapat digunakan tersendiri atau bersamaan dengan obat antihipertensi lain.
  • Pengobatan payah jantung kongestif sebagai terapi tambahan disamping diuretika dan bila periu dapat dikombinasikan dengan digitalis.
  • Dapat digunakan sendiri atau bersamaan dengan obat anti hipertensi yang lain.
POSOLOGI:
Dewasa

  • Hipertensi
    Dosis awal adalah 10 mg sekali sehari. Dosis pemeliharaan yang normal dan efektif adalah 20 mg sekali sehari dan dapat ditingkatkan sesuai dengan respon tekanan darah.
    Dosis maksimum yang digunakan dalam uji klinis terkontrol yang berlangsung lama adalah 80 mg/hari. Dosis awal lebih rendah diperlukan pada penderita gangguan fungsi ginjal, penderita yang tetap membutuhkan terapi diuretik, serta penderita hipertensi renovaskuler.
    Hipertensi renovaskuler: sebagian penderita jenis ini (terutama penderita stenosis arteria renalis bilateral, atau stenosis arteri dari penderita dengan satu ginjal ) dapat mengalami respon yang berlebihan pada dosis awal ODACE®. Setelah itu dosis dapat disesuaikan dengan besar penurunan tekanan darah.
    Bila penderita sedang diobati dengan diuretika, terapi dengan ODACE® baru dapat dimulai setelah diuretika dihentikan selama 2 - 3 hari.
    Pada penderita yang pemberian diuretikanya tidak dapat dihentikan, dianjurkan pemberian ODACE® dengan dosis awal 5 mg.
  • Payah Jantung Kongestif
    Pada penderita payah jantung yang tidak dapat terkontrol oleh digitalis dan/atau diuretik, dapat ditambahkan ODACE® dengan dosis awal 2,5 mg 1x sehari. Besar dosis efektif biasanya berkisar antara 5 - 20 mg sehari dalam dosis tunggal harian.
    Penderita dengan resiko tinggi terjadi hipertensi simptomatik (yaitu penderita yang kehilangan garam yang disertai/tidak disertai hiponatremia, penderita dengan hipovolemia, atau penderita yang mendapat terapi diuretik dosis tinggi) harus dilakukan perbaikan kondisi klinis sebelum terapi dengan ODACE dimulai. Efek pada dosis awal ODACE® terhadap tekanan darah harus dipantau dengan cermat.
  • Insufisiensi Ginjal
    ODACE® dieksresikan melalui ginjal sehingga harus digunakan secara hati-hati pada penderita insufiensi ginjal.
    Bila berhadapan dengan kasus kerusakan fungsi ginjal, dosis disesuaikan berdasarkan klirens kreatinin.
    Evaluasi penderita mencakup penilaian fungsi ginjal sebelum terapi dan selama pengobatan bila dianggap perlu.
    Bersihan Kreatindosis awal
    ‹ 10 ml/menit
    (Termasuk penderita hemodialisis)
    2,5 mg/hari
    10-30 ml/menit2,5 - 5 mg/hari
    31-70 ml/menit5,0-10 mg/hari

    Dosis dapat dititrasi dengan tepat sampai tekanan darah terkontrol atau dosis maksimum 40 mg yang dapat didialisis.
Penderita lanjut usia
Tidak ada perubahan kemanjuran dan keamanan dari ODACE yang berhubungan dengan usia.
Anak-anak
ODACE® tidak dianjurkan untuk anak-anak.

PERINGATAN DAN PERHATIAN:

  • Hati-hati pada pasien yang menggunakan obat diuretik.
  • Hati-hati pada pasien yang defisiensi garam atau air.
  • Hati-hati pada pasien dengan insufisiensi ginjal.
  • Penggunaan pada wanita hamil dan menyusui:
    Penggunaan obat ACE-lnhibitor selama kehamilan dapat menyebabkan gangguan/kelainan organ fetus/neonatus bahkan dapat menimbulkan kematian. Pada kehamilan trimester II dan III dapat terjadi gangguan seperti: Anuria, hipotensi, hipoplasia tengkorak neonatus, gagal ginjal reversibel/ireversibel dan bahkan kematian. Juga dapat terjadi deformasi kraniofasial, perkembangan paru hipoplasia, perkembangan retardasi-intrauteri, parenduktus arteriosus, dan kelahiran prematur.
    Bila pada penggunaan kemudian diketahui pasien yang bersangkutan hamil, hentikan segera penggunaannya. Pada bayi dimana ibunya selama kehamilan mendapat terapi ACE-lnhibitor, harus dilakukan pemantauan intensif tentang kemungkinan terjadinya hipotensi, oligouria dan hiperkalemia: Hati-hati penggunaan pada wanita yang sedang menyusui.
  • Penggunaan pada Anak-anak:
    Keamanan penggunaan pada anak-anak belum diketahui.
  • Pada penderita yang menjalani pembedahan atau mendapat anestesi dengan zat-zat penurun tekanan darah, penggunaan ODACE dapat menghambat pembentukan angiotension II yang terjadi secara sekunder setelah pelepasan renin sebagai kompensasi. Bila terjadi hipotensi (dengan perkiraan kejadian lewat mekanisme ini), maka dapat dilakukan koreksi dengan penambahan cairan.
  • Penggunaan ACE-inhibitor juga dapat menimbulkan batuk dengan ciri-ciri : tidak berdahak, terus-menerus dan hilang bila pengobatan dihentikan. Batuk yang diinduksi ACE-lnhibitor harus dipertimbangkan sebagai salah satu kemungkinan dalam diagnosa diferensial batuk.
  • Penderita yang sedang (khususnya baru saja) mendapat terapi dengan diuretik, penambahan lisinopril dapat menyebabkan penurunan tekanan darah berlebihan. Kemungkinan terjadinya hipotensi simptomatik dapat diperkecil dengan penghentian diuretik sebelum memulai terapi dengan lisinopril. Bila lisinopril diberikan bersamaan dengan diuretik tipe Kalium-depressan, maka hipokalemia yang ditimbulkan dapat menjadi lebih baik.
EFEK SAMPING :

  • Hipotensi berat dapat muncul menyertai ACE-inhibitor.
  • Oedema angioneuratik pada muka, tungkai, bibir, lidah, glottis atau larynx pernah dilaporkan walaupun jarang terjadi pada penderita yang diobati dengan ACE Inhibitor.
  • Pada kasus tersebut, ODACE® harus dihentikan segera dan penderita diperhatikan sampai pembengkakan hilang.
    Ada kasus dimana pembengkakan berlanjut ke muka dan bibir, umumnya keadaan ini mereda sendiri tanpa pengobatan, dan antihistamin dapat digunakan untuk meringankan gejala.
  • Oedema angioneuratik yang disertai oedema larynx dapat mematikan.
  • Reaksi hipersensitif seperti urtikaria telah pula dilaporkan.
  • Efek samping yang paling sering dilaporkan dalam uji klinik adalah: letih, mual, pusing, sakit kepala, batuk, dan diare. Efek samping lain (dalam frekuensi lebih rendah) misalnya : ruam kulit, astenia dan hipotensi ortostatik.
  • Efek samping yang pernah dilaporkan:
    • Kardiovaskular: Palpitasi, takikardi. Juga dapat terjadi infark jantung/gangguan sirkulasi serebrovaskurer mungkin merupakan akibathipotensi beriebihan (terutama pada penderita dengan resiko tinggi).
    • Digestive: mulut kering dan nyeri abdomen.
    • Sistem saraf: perubanan mood, perasaan bingung (mental confusion).
    • Urogenital: Oligouria/anuria, uremia, disfungsi ginjal, gagal ginjal akut, hepatitis ikterus dan impotensi.
    • Lain-lain: Demam, mialgia, artralgia, fotosensitifitas, artritis, vaskulitis, eosinofilia, lekositosis, hasil ANA positif dan peninggian LED.
KONTRA INDIKASI:

  • Penderita yang hipersensitif terhadap lisinopril.
  • Penderita dengan sejarah angioneurotik oedema yang sebelumnya menggunakan terapi ACE inhibitor.

INTERAKSI OBAT:

  • Indometasin dapat mengurangi khasiat antihipertensif dari ODACE®.
  • Sama seperti obat diuretik lainnya, penggunaan ODACE dapat mengurangi pengeluaran Litium. Lakukan pemantauan kadar Litium dalam serum secara cermat.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Simpan di tempat sejuk (15°- 25°C) dan kering

KEMASAN :
Box isi 3 strip @ 10 tablet
Reg.No.: DKL9820716710A1

Diproduksi oleh:
Prafa
PRADJA PHARIN
Citeureup, Bogor - Indonesia

Continue reading...

Xevolac Tablet

XEVOLAC®
Tablet Salut Selaput

KOMPOSISI
Setiap tablet salut selaput mengandung 10 mg Ketorolac Tromethamine.

CARA KERJA OBAT
Ketorolac Tromethamine adalah suatu NSAID yang memiliki aktifitas antiinflamasi, analgesik dan antipiretik. Cara kerjanya adalah dengan menghambat sintesis prostaglandin dalam jaringan melalui penehambatan siklooksigenase, enzim yang mengkatalisis pembentukan prekursor prostaglandin (endoperoksida) dari asam arakhidonat.

INDIKASI
Xevolac® diindikasikan untuk terapi jangka pendek nyeri sedang setelah operasi.

DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
Dosis awal Xevolac® yang direkomendasikan adalah 10 mg dilanjutkan dengan 10-30 mg setiap 4 sampai 6 jam. Dosis melebihi 40 mg per hari tidak direkomendasikan.
Untuk pasien yang menerima injeksi Xevolac® dan diubah menjadi tablet, maka kombinasi total dosis per hari tidak boleh lebih dari 90 mg (60 mg untuk pasien lanjut usia, pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan pasien dengan berat badan kurang dari 50 kg) dan komponen oral tidak boleh lebin dari 40 mg pada hari perubahan formula dilakukan.

KONTRAINDIKASI
Xevolac® dikontraindikasikan bagi:
  • Pasien yang pernah mengalami alergi sebelumnya terhadap ketorolac. Oleh karena adanya kemungkinan sensitifitas silang, maka Xevolac® juga dikontraindikasikan bagi pasien yang memiliki riwayat alergi yang serius terhadap asetosal atau NSAID lainnya.
  • Pasien yang menderita tukak peptik, penyakit serebrovaskular, diasteses pendarahan, risiko terjadinya pendarahan atau homeostasis yang tidak lengkap, polip nasal, angioedema, asma, bronkospasma, hipovolemia, gangguan fungsi ginjal sedang hingga parah.
  • Wanita hamil dan menyusui, serta anak di bawah usia 16 tahun.
  • Pasien yang menerima pengobatan dengan probenecid dan garam litium.
  • Pasien yang memiliki riwayat sindrom Stevens-Johnson atau vesicular butlous rash.
PERINGATAN DAN PERHATIAN
  • Seperti obat NSAID lainnya, Xevolac® dapat menyebabkan iritasi, ulkus peptik, perforasi atau pendarahan pada saluran cerna tanpa didahului oleh gejala-gejala dan hendaknya diberikan dengan pengawasan pada pasien dengan sejarah penyakit pada saluran cerna.
  • Xevolac® bukan obat anestetik dan tidak memiliki efek sedatif dan anxiolitik, sehingga sediaan ini tidak direkomendasikan sebagai medikasi suportif anestesi pra-operasi ataupun intra-operasi.
  • Retensi cairan dan edema pernah dilaporkan pada penggunaan ketorolac, sehingga hendaknya dilakukan pengawasan pada pasien penderita dekompensasi jantung atau kondisi yang serupa.
  • Xevolac® menghambat agregasi platelet dan memperpanjang waktu pendarahan
  • Efek samping yang terjadi pada mata pernah ditemukan pada penggunaan bersama NSAID lain.
  • Penggunaan bersama sediaan NSAID lain yang menghambat biosintesis prostaglandin, meningkatkan kadar serum urea nitrogen dan kreatinin, pernah dilaporkan dalam uji klinik ketorolac.
EFEK SAMPING
  • Dispepsia, gangguan saluran pencernaan, mual, sakit kepala, diare, pusing, mengantuk, berkeringat.
  • Hipertensi, konstipasi, flatulen, muntah, stomatitis, purpura.
  • Susunan saraf pusat/sistem muskoskeletal: mimpi abnormal, keanehan pada fungsi pengecapan dan penglihatan, sulit berkonsentrasi, meningitis aseptik, konvulsi, depresi, vertigo, insomnia, mialgia, gugup, gelisah.
  • Saluran urin dan ginjal: gagal ginjal akut, nyeri panggul (dengan atau tanpa hematuria), nefritis glomerular, sindrom uremik hemolitik, hiperkalemia, hiponatremia, peningkatan frekuensi urin, nefritis interstitial, sindrom nefritis, oligouria, peningkatan urea dan kreatinin pada serum, nekrosis renal papiliari, retensi urin.
  • Sistem pernapasan: Dyspnea, asma, edema paru - paru.
  • Kulit: pruritus, urtikaria, sindrom Lyell, sindrom Steven-Johnson, dermatitis eksfoliatif, ruam makulopapular.
  • Reaksi hipersensitif: Anafilaksis, bronkospasma, ruam dan kemerahan, hipotensi, edema laring.
    Beberapa reaksi dapat terjadi pada pasien dengan atau tanpa diketahui sensitif terhadap ketorolac atau obat-obat NSAID. Hal tersebut dapat juga terjadi pada individu yang memiliki riwayat angioedema, reaktifitas bronkospasma (misalnya asma dan polyp nasal). Reaksi anafilaktoid seperti anafilaksis dapat berakibat fatal.
  • Pendarahan: Luka haemoragia setelah operasi, hematoma epistaksis, peningkatan waktu pendarahan.
  • Lain-lain: Astenia, edema, peningkatan berat badan, abnormalitas pada tes fungsi hati, hepatitis, gagal hati, demam.
INTERAKSI OBAT
  • Warfarin, inhibitor ACE, diuretik, agen nefrotoksik, obat-obat antiepilepsi, obat psikoaktif.
  • Penggunaan bersama dengan metotrexat dan beberapa NSAID dilaporkan dapat menurunkan klirens dari metotrexat, sehingga meningkatkan toksisitas metotrexat
  • Penggunaan bersama dengan probenecid dapat menyebabkan penurunan klirens Xevolac®.
  • Penghambatan klirens lithium di ginjal telah dilaporkan.
OVERDOSIS
Tidak adanya pengalaman overdosis akut menghambat penilaian khasiat antidot. Studi gastroskopik pada orang sehat dengan dosis 350 mg diberikan dalam interval 8 jam untuk 5 hari (3 kali dosis tertinggi yang direkomendasikan) menyebabkan nyeri abdominal dan tukak peptik yang sembuh setelah pemberian obat dihentikan.

PENYIMPANAN
Simpan pada suhu kamar (di bawah 30°C).

KEMASAN
Dus, 2 blister @ 10 tablet salut selaput
No. Reg.: DKL0833519817A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Manufactured by :
NOVELL
PHARMACEUTICAL
LABORATORIES
BOGOR-INDONESIA
Continue reading...

Vidastat

VIDASTAT®
Simvastatin
Tablet salut selaput

KOMPOSISI
- Tiap tablet salut selaput VIDASTAT® 10 mengandung: simvastatin 10 mg
- Tiap tablet salut selaput VIDASTAT® 20 mengandung: simvastatin 20 mg

FARMAKOLOGI
Simvastatin adalah obat yang menurunkan kadar kolesterol hipolipidemik dan merupakan hasil sintesa dari hasil fermentasi Aspergillus terreus. Secara in-vivo simvastatin akan dihidrolisa menjadi metabolit aktif. Mekanisme kerja dari metabolit aktif tersebut adalah dengan cara menghambat kerja 3-hidroksi-3 metilglutaril koenzim A reduktase (HMG Co-A reduktase), dimana enzim ini mengkatalisa perubahan HMG Co-A menjadi asam mevalonat yang merupakan langkah awal dari sintesa kolesterol.

INDIKASI
Terapi dengan "lipid-altering agents" dapat dipertimbangkan penggunaannya pada individu yang mengalami peningkatan resiko atherosklerosis vaskuler yang disebabkan oleh hiperkolesterolemia.
Terapi dengan "lipid-altering agents" merupakan penunjang pada diet ketat, bila respon terhadap diet dan pengobatan non-farmakologi tunggal lainnya tidak memadai.

Penyakit jantung koroner
Pada penderita dengan penyakit jantung koroner dan hiperkolesterolemia, simvastatin diindikasikan untuk:

  • Mengurangi resiko mortalitas total dengan mengurangi kematian akibat penyakit koroner.
  • Mengurangi resiko miokardial infarktion non fatal.
  • Mengurangi resiko pada pasien yang menjalani prosedur revaskularisasi miokardial.
Hiperkolesterolemia
Menurunkan kadar kolesterol total dan LDL pada penderita hiperkolesterolemia primer (Tipe IIa dan IIb).

Rekomendasi umum:
Sebelum memulai terapi dengan simvastatin, agar disingkirkan terlebih dahulu penyebab sekunder dari hiperkolesterolemia (seperti diabetes melitus yang tidak terkontrol, hipotiroid, sindrom nefrotik, disproteinemia, penyakit hati obstruktif, terapi dengan obat lain, alkoholism), dan lakukan pengukuran profil kolesterol total, kolesterol HDL dan trigliserida (TG).
Pada pasien dengan trigliserida < ldl =" Total"> 400 mg/dL (> 4,5 mmol/L) persamaan ini kurang akurat dan kadar kolesterol LDL harus ditentukan dengan ultrasentrifugasi.
Pada banyak pasien hipertrigliseridemia, kolesterol LDL mungkin rendah atau normal walaupun kadar kolesterol total meningkat. Pada keadaan ini simvastatin tidak diindikasikan.

POSOLOGI
Pasien harus melakukan diet pengurangan kolesterol sebelum dan selama pengobatan dengan simvastatin.
Dosis awal yang dianjurkan 5-10 mg sehari sebagai dosis tunggal pada malam hari. Dosis awal untuk pasien dengan hiperkolesterolemia ringan sampai sedang 5 mg sehari. Pengaturan dosis dilakukan dengan interval tidak kurang dari 4 minggu sampai maksimum 40 mg sehari sebagai dosis tunggal malam hari. Lakukan pengukuran kadar lipid dengan interval tidak kurang dari 4 minggu dan dosis disesuaikan dengan respon penderita.
Pasien yang diobati dengan immunosupresan bersama HMG Co-A reductase inhibitor, agar diberikan dosis simvastatin terendah yang dianjurkan.
Bila kadar kolesterol LDL turun dibawah 75 mg/dl (1,94 mmol/l) atau kadar total kolesterol plasma turun dibawah 140 mg/dl (3,6 mmol/l) maka perlu dipertimbangkan pengurangan dosis simvastatin.
Penderita gangguan fungsi ginjal tidak diperlukan penyesuaian dosis, karena simvastatin tidak diekskresikan melalui ginjal secara bermakna. Walaupun demikian, hati-hati pemberian pada insufisiensi ginjal parah, dosis awal 5 mg sehari dan harus dipantau ketat.
Terapi bersama obat lain simvastatin efektif diberikan dalam bentuk tunggal atau bersamaan dengan 'bile-acid sequestrants'.

PERINGATAN DAN PERHATIAN

  • Selama terapi dengan simvastatin harus dilakukan pemeriksaan kolesterol secara periodik. Pada pasien yang mengalami peningkatan kadar serum transaminase, perhatian khusus berupa pengukuran kadar transaminase harus dilakukan jika terjadi peningkatan yang menetap (hingga 3 kali batas normal atas) pengobatan segera dihentikan.
  • Dianjurkan melakukan tes fungsi hati sebelum pengobatan dimulai, 6 dan 12 minggu setelah pengobatan pertama, dan berikutnya secara periodik (misalnya secara semianual).
  • Hati-hati penggunaan pada pasien alkoholism dan atau yang mempunyai riwayat penyakit hati.
  • Pada penggunaan jangka panjang dianjurkan melakukan tes laboratorium secara periodik tiap 3 bulan untuk menentukan pengobatan selanjutnya.
  • Terapi dengan simvastatin harus dihentikan sementara atau tidak dilanjutkan pada penderita dengan miopati akut dan parah atau pada penderita dengan resiko kegagalan ginjal sekunder karena rabdomiolisis atau terjadi kenaikan creatinin phosphokinase (CPK).
  • Penderita agar segera memberitahukan kepada dokter apabila terjadi nyeri otot yang tidak jelas, otot terasa lemas dan lemah.
  • Simvastatin tidak efektif pada pasien dengan "homozygous familial hiperkolesterolemia".
  • Simvastatin tidak diindikasikan dimana hipertriglisendemia merupakan kelainan utama (misalnya hiperlipidemia tipe I, IV, dan V).
  • Keamanan dan efektifitas pada anak-anak dan remaja belum pasti.
EFEK SAMPING

  • Abdominal pain, konstipasi, flatulens, astenia, sakit kepala, miopati, rabdomiolisis. Pada kasus tertentu terjadi angioneurotic edema.
  • Efek samping lain yang pernah dilaporkan pada golongan obat ini:
    • Neurologi: disfungsi saraf cranial tertentu, tremor, pusing vertigo, hilang ingatan, parestesia, neuropati perifer, kelumpuhan saraf periferal.
    • Reaksi hipersensitif: anaflaksis, angioedema, trombositopenia, leucopenia, anemia hemolitik.
    • Gastrointestinal : anoreksia, muntah.
    • Kulit: alopecia, pruritus.
    • Reproduksi: ginekomastia, kehilangan libido, disfungsi ereksi.
    • Mata : mempercepat katarak, optalmoplegia.
KONTRA INDIKASI
  • Hipersensitif terhadap simvastatin atau komponen obat.
  • Penyakit hati aktif atau peningkatan transaminase serum yang menetap yang tidak jelas penyebabnya.
  • Wanita hamil dan menyusui.
INTERAKSI OBAT
  • Pemakaian bersama-sama dengan immunosupresan, itrakonazol, gemfibrozil, niasin dan eritromisin dapat menyebabkan peningkatan pada gangguan otot skelet (rabdomiolisis dan miopati).
  • Dengan antikoagulan kumarin dapat memperpanjang waktu protrombin.
  • Antipirin, propanolol, digoksin.
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Simpan pada suhu 25°-30°C

KEMASAN
VIDASTAT® 10
Box isi 3 strip @ 10 tablet salut selaput
Reg. No.: DKL9904514309A1
VIDASTAT® 20
Box isi 3 strip @ 10 tablet salut selaput
Reg. No.:DKL0604S14309B1

Diproduksi oleh:
Darya-Varia
LABORATORIA
Gunung Putri, Bogor-lndonesia
Continue reading...

Tremenza

TREMENZA®
Pseudoephedrine HCl, Triprolidine HCl
Tablet, Sirop


KOMPOSISI
Tiap tablet mengandung:
Pseudoefedrin HCl60mg
Triprolidin HCl2,5mg

Tiap 5 ml Sirop mengandung:
Pseudoefedrin HCl30mg
Triprolidin HCl1,25mg

FARMAKOLOGI
TREMENZA®
merupakan kombinasi antara Pseudoefedrin suatu dekongestan nasal dan Triprolidin suatu antihistamin.
Pseudoefedrin adalah suatu amin simpatonnimetik yang bekerja pada reseptor alfa-adrenergik dalam mukosa saluran pernafasan sehingga menghasilkan vasokonstriksi.
Senyawa ini juga untuk sementara mengurangi pembengkakan karena inflamasi pada membran mukosa sehingga melancarkan jalan nafas pada hidung.
Kerjanya pada pembuluh darah saluran pernafasan bagian atas lebih spesifik dibandingkan dengan pembuluh darah sistemik.
Triprolidin adalah suatu antihistamin yang bekerja sebagai antagonis reseptor histamin H1 dalam pengobatan alergi pada sel efektor.
TREMENZA® diabsorpsi dengan baik dari saluran pencernaan sesudah pemberian oral dan digunakan pada penderita rinitis vasomotor atau otitis media serius dengan kongesti tuba eustachius.

INDIKASI
TREMENZA®
diindikasikan untuk meringankan gejala-gejala flu karena alergi pada saluran pernafasan bagian atas yang memerlukan dekongestan nasal dan antihistamin.

KONTRA-INDIKASI
  • Jangan digunakan untuk penyakit saluran nafas bagian baWah termasuk asma.
  • Hipersensitivitas terhadap obat ini.
  • Pada penderita dengan gejala hipertensi, glaukoma, diabetes, penyakit arteri koroner dan pada terapi dengan penghambat monoamin oksidase.
EFEK SAMPING
  • Mulut, hidung dan tenggorokan kering.
  • Sedasi, pusing, gangguan koordinasi, tremor, insomnia, halusinasi, tinitus.
  • Antihistamin dapat menyebabkan pusing, rasa kantuk, mulut kering, penglihatan kabur, rasa letih, mual, sakit kepala atau gelisah pada beberapa penderita.
PERHATIAN

  • Hati-hati bila mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.
  • Karena efeknya pada bayi belum diketahui, maka pemberian pada wanita hamil dan menyusui harus sesuai petunjuk dokter.
  • Jangan melebihi dosis yang dianjurkan.
  • Bila gejala belum hilang atau timbul demam dalam waktu 2 hari, konsultasikan pada dokter.
  • Tidak dianjurkan untuk anak dibawah 2 tahun kecuali atas petunjuk dokter.
  • Hentikan penggunaan obat bila terjadi sukar tidur, jantung berdebar-debar atau pusing.
  • Bagi yang menerima injeksi alergen, tidak boleh menggunakan obat ini.
  • Selama minum obat ini, jangan minum minuman yang mengandung alkohol, obat penenang dan obat lain yang menyebabkan rasa kantuk.

INTERAKSI OBAT
Penggunaan bersama dengan furazolidon dan penghambat monoamin oksidase dapat menaikkan efek alfa-adrenergik dari simpatomimetik, seperti sakit kepala, krisis hipertensif.

DOSIS
- Dewasa:
1 tablet atau 10 ml, 3 - 4 kali sehari.
- Anak-anak:
6 - 12 tahun: ½ tablet atau 5 ml, 3-4 kali sehari.
2 - 5 tahun : 2,5 ml, 3-4 kali sehari.

KEMASAN
Tablet:
Dus isi 10 strip @ 10 tablet.
No. Reg.: DKL9322213610A1
Sirop :
Botol dengan isi bersih 60 ml.
No. Reg.: DTL9322213737A1

PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk (15°-25°C) dan kering, terlindung dari cahaya.

Dibuat Oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia

Continue reading...

Isprinol

ISPRINOL®

KOMPOSISI
ISPRINOL TABLET
Setiap tablet mengandung
Methisoprinol 500 mg

ISPRINOL SIRUP
Setiap 5 mL mengandung :
Methisoprinol 250 mg.

CARA KERJA OBAT
Methisoprinol adalah suatu kompleks senyawa kimia yang terbentuk dari Inosin dan suatu aminoalkohol, dimetilamino-isopropanol, dengan rasio 1 : 3. Methisoprinol meningkatkan sintesa protein dan nucleoprotein; melindungi struktur dan fungsi poliribosom; mendiami ribonuklease; menguatkan fungsi poliribosom; menghalangi pemindahan genetika virus ke poliribosom sel tubuh dan dengan cara ini menghentikan multiplikasi virus. Dari studi klinis yang dilakukan oleh para peneliti Argentina, didapatkan aktivitas anti virus non-spesifik dan berspektrum luas.

INDIKASI
Penyakit yang disebabkan oleh virus pada saluran napas, penyakit-penyakit eksantem, penyakit hati dan beberapa penyakit sistem saraf. Flu pada anak dan orang dewasa, bronchiolitis/ rhinopharyngitis, varicella, campak, herpes simplex dan zoster, parotitis.

DOSIS DAN CARA PEMBER1AN
Usia di bawah lima tahun rata-rata 50 mg/Kg berat badan per hari. Dosis ini dapat ditingkatkan sampai dengan 100 mg/Kg berat badan per hari, tergantung pada tingkat keparahan penyakit.
Usia lima tahun ke atas dan dewasa : rata-rata 50 mg/Kg berat badan per hari, dan dapat ditingkatkan sampai dengan 60 mg/Kg berat badan perhari. Dosis ini diberikan dalam 4-6 dosis terbagi. Jika diperlukan, bila ada komplikasi mikroba, tidak ada kontraindikasi untuk pemakaian bersama antibiotika atau kemoterapi dan ini tergantung pada anjuran dokter. Lama pengobatan sebagai berikut :
  1. Infeksi virus akut singkat : pengobatan harus dilanjutkan satu sampai dua hari setelah
    gejala-gejala mereda, sesuai dengan anjuran dokter. Dengan cara ini kambuhnya penyakit dapat dihindari.
  2. Infeksi virus akut lama : Pengobatan hendaknya dilanjutkan satu sampai dua minggu setelah gejala-gejala mereda, sesuai dengan anjuran dokter. Dengan cara ini kambuhnya penyakit dapat dihindari.
EFEK SAMPING
Efek samping yang telah diamati secara konsisten hanya berupa peningkatan sementara urine dan kadar asam urat dalam serum. Peningkatan asam urat ini dikarenakan penguraian inosin menjadi asam urat seperti yang terjadi pada metabolisme purine alamiah, inosin, pada tubuh manusia.
Efek samping yang kadang-kadang terjadi dan bersifat sementara adalah ruam kulit atau
gatal, fatigue aiau malaise dan diare. Efek samping yang jarang terjadi misalnya sakit kepala yang bersifat sementara, vertigo, gugup atau insomnia, konstipasi dan poliurea (peningkatan frekuensi urin). Frekuensi terjadinya efek samping ini tidak bermakna secara statistik dilihat dari keseluruhan data post marketing surveillance.

KONTRAINDIKASI
  • Hati-hati ketika memberikan Methisoprinol kepada pasien-pasien gout, karena obat ini sedikit meningkatkan kadar asam urat dalam serum.
  • Karena memiliki sedikit pengaruh terhadap jantung, perhatian diperlukan dalam pengobatan pasien jantung yang sedang menjalankan pengobatan dengan Digitalis.
  • Methisoprinol sebaiknya tidak digunakan pada infeksi bakteri karena tidak memiliki efek antibakteri.
  • Methisoprinol sebaiknya tidak digunakan selama empat bulan pertama kehamilan.
  • Tidak diketahui apakah Methisoprinol diekskresi pada air susu ibu.
Mengingat rasio antara dosis terapi dan dosis toksik adalah 1 : 100, Methisoprinol dapat digunakan tanpa kekhawatiran akan efek toksik. Akumulasi tidak terjadi karena Methisoprinol
cepat dieliminasi bersama dengan metabolitnya melalui urin.

INTERAKSI OBAT
Studi klinis sampai saat ini tidak memperlihatkan adanya interaksi obat dan tidak ada interaksi dengan makanan yang diketahui.

PERINGATAN DAN PERHATIAN
ISPRINOL TABLET : Produk bersifat higroskopis setelah kemasan dibuka.
Hati-hati bila diracik ; lakukan di ruang ber AC dan simpan dalam lemari es.

PENYIMPANAN
ISPRINOL TABLET
Simpan pada suhu ruangan terkontrol (dibawah 25°C).
ISPRINOL SIRUP
Simpan pada suhu kamar (dibawah 30°C).

KEMASAN
ISPRINOL TABLET
Box, 2 strip @ 4 tablet
No. Reg. : DKL04335.11510A1
ISPRINOL SIRUP
Box, botol @ 60 mL
No. Reg. : DKL0433511637A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Diproduksi oleh :
NOVELL
PHARMACEUTICAL
LABORATORIES
BOGOR-INDONESiA
Continue reading...

Becom-Zet

BECOM-ZET®
Film-coated caplet


Tiap kaplet mengandung:
Vitamin E30IU
Vitamin C750mg
Asam Folat400mcg
Vitamin B115mg
Vitamin B215mg
Vitamin B620mg
Vitamin B1212mcg
Niasin100mg
Asam Pantotenat20mg
Zinc22,5mg

FARMAKOLOGI
BECOM-ZET®
adalah kombinasi Vitamin B-Kompleks, Vitamin C dosis tinggi (750 mg), Vitamin E, Asam Folat dan Zinc.
Vitamin E bersifat sebagai antioksidan yang akan mencegah terjadinya oksidasi bagian sel yang penting atau mencegah terbentuknya hasil oksidasi yang toksik.
Fungsi utama Vitamin C berperan dalam pembentukan kolagen, proteoglikan dan bahan-bahan organik lain pada bagian antar sel dan jaringan seperti gigi, tulang dan endotelium kapiler.
Vitamin C mempunyai khasiat anti-skorbut.
Asam Folat menaikkan penyerapan zat besi oleh tubuh dan sintesa hemoglobin.
Vitamin B1 bekerja sebagai koenzim yang penting untuk metabolisme karbohidrat.
Vitamin B2 berfungsi sebagai koenzim yang terutama mempengaruhi transport hidrogen dalam sistem enzim oksidatif.
Nikotinamida diubah menjadi nukleotida-nukleotida yang aktif secara fisiologis. Nukleotida-nukleotida ini merupakan senyawa transfer elektron yang bekerja pada respirasi sel, glikolisis dan sintesa lemak.
Vitamin B6 terutama berfungsi dalam metabolisme protein dan asam amino.
Sebagai komponen dari beberapa koenzim, Vitamin B12 penting dalam sintesa asam nukleat dan myelin, sehingga dengan demikian mempengaruhi pematangan sel dan memelihara integritas jaringan syaraf.
Asam Pantotenat sebagai prekursor koenzim A, penting dalam metabolisme lemak, karbohidrat, protein serta dalam sintesa steroid, porfirin, asetilkolin dan substansi lainnya.
Zinc memegang peranan penting dalam proses pembentukan sel-sel darah merah.

INDIKASI
Defisiensi Vitamin B-Kompleks, Vitamin C, Vitamin E dan Zinc.

DOSIS
Sehari 1 (satu) kaplet
Atau menurut petunjuk dokter.

KEMASAN
Dus isi 10 strip @ 10 kaplet
No. Reg.: DTL9522217209A1

PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk dan kering.


Dibuat oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia
Continue reading...

Saturday, December 26, 2009

San-B-Plex Baby Drops

SAN-B-PLEX®
Baby Drops


Tiap 0,6 ml mengandung:
Vitamin A5000IU
Vitamin D400IU
Vitamin B11mg
Vitamin B21,2mg
Vitamin B61mg
Vitamin C50mg
Nikotinamida10mg
Asam Pantotenat5mg


FARMAKOLOGI
SAN-B-PLEX®
baby drops adalah sediaan larutan yang stabil dan tidak mengandung alkohol, terdiri dari 8 macam vitamin yang penting untuk memenuhi kebutuhan bayi dan anak-anak secara optimal.
Vitamin merupakan bahan penting yang harus terdapat dalam makanan untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan yang normal pada bayi dan anak-anak. Sebagian besar vitamin berfungsi sebagai koenzim yang memegang peranan penting pada pernafasan jaringan dan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak.

INDIKASI
SAN-B-PLEX®
baby drops diindikasikan terutama pada bayi dan anak-anak, untuk:
  • Pencegahan dan pengobatan kekurangan vitamin
  • Merangsang nafsu makan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal.

DOSIS
Bayi: 0,3 ml sehari
Anak-anak: 0,6 ml sehari
Atau menurut petunjuk dokter.

Dapat diteteskan langsung pada lidah atau dicampur dengan susu, air buah atau makanan lain.
Setelah dipakai, tutuplah botol rapat-rapat dengan pipet yang sudah tertera ukurannya.

KEMASAN
Botol dengan isi bersih 15 ml.
No. Reg.:D7813422

PENYIMPANAN
Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk, terlindung dari cahaya.

Dibuat oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia

Continue reading...

Biosanbe

BIOSANBE®
Kapsul


Tiap kapsul mengandung:
Besi (II) Glukonat250mg
Mangan (II) Sulfat0,2mg
Tembaga (II) Sulfat0,2mg
Asam Askorbat50mg
Asam Folat1mg
Sianokobalamin dengan faktor intrinsik7,5mcg
Sorbitol25mg

FARMAKOLOGI
BIOSANBE®
mengandung besi dalam dosis tinggi, yang memegang peranan penting dalam proses pembentukan sel-sel darah merah. Dalam kombinasinya dengan Mangan, Tembaga, Asam Askorbat, Asam Folat, Sianokobalamin, menaikkan penyerapan zat besi oleh tubuh dan sintesa hemoglobin.
Penambahan Sorbitol berfungsi mencegah terjadinya konstipasi.

INDIKASI
BIOSANBE®
merupakan obat terpilih dalam pengobatan anemia kekurangan zat besi, anemia selama pertumbuhan anak, anemia karena pendarahan, masa penyembuhan, sewaktu hamil dan menyusui, dalam keadaan lanjut usia, kurang gizi atau diet.

DOSIS
Sehari satu kapsul sesudah makan.
Atau menurut petunjuk dokter.

KEMASAN
Dus isi 10 strip @ 10 kapsul.
No. Reg.:D7813421

PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk dan kering.

Dibuat oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia
Continue reading...

Becom-C

BECOM-C®
Film-coated kaplet

Tiap kaplet mengandung:
Vitamin B150mg
Vitamin B225mg
Vitamin B610mg
Vitamin B125mcg
Nikotinamida100mg
Kalsium Pantotenat20mg
Vitamin C
(Natrium Askorbat)
500mg

FARMAKOLOGI
BECOM-C®
adalah kombinasi Vitamin B-Kompleks dan Vitamin C dengan dosis besar.
Vitamin B-Kompleks penting untuk mencegah dan mengobati kekurangan Vitamin B-kompleks serta memelihara aktifitas normal dari susunan syaraf.
Vitamin C memegang peranan penting dalam mempertinggi daya tahan tubuh, mencegah dan mengobati kekurangan vitamin C, disamping juga dibutuhkan untuk pembentukan gigi dan tulang yang normal.

INDIKASI
Anak-anak dalam masa pertumbuhan, pencegahan/ penyembuhan kekurangan vitamin B-kompleks dan Vitamin C, selama masa penyembuhan.

PERHATIAN
Bila penderita mengeluh karena gangguan lambung, lebih baik pengobatan dimulai dengan dosis yang rendah, yaitu: ½ kaplet sehari sesudah makan.

DOSIS
Dewasa: 1 kaplet sehari, sesudah makan.
Atau menurut petunjuk dokter.

KEMASAN
Dus isi 10 strip @ 10 kaplet.
No. Reg.:DBL8322200709A1

PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk dan kering.

Dibuat oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia
Continue reading...

Friday, December 25, 2009

Folavit

FOLAVIT
Tablet


Tiap tablet mengandung:
Asam Folat .......................... 250μg/-400μg

FOLAVIT mengandung Asam Folat suatu vitamin dalam kelompok vitamin B dengan nama kimia Pteroylglutamic acid (Asam Pteroilglutamat).
Dalam makanan, Asam Folat dapat ditemukan antara lain pada sayuan hijau, buah-buahan dan kacang-kacangan. Asam Folat larut dalam air dan kelebihannya tidak disimpan di dalam tubuh.
Hasil penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan Asam Folat setiap hari pada wanita sejak sebelum kehamilan sampai dengan kehamilan 3 bulan, 70% efektif sebagai pencegahan utama (primer) terhadap Neutral Tube Defect (defek bumbung syaraf). Cara yang paling efektif untuk menjamin pemenuhan kebutuhan Asam Folat pada wanita yang merencanakan kehamilan atau wanita hamil adalah dengan penggunaan tablet Asam Folat setiap hari.

KEGUNAAN
Asam Folat berperan dalam pertumbuhan janin yang normal serta membantu memelihara kesehatan tubuh.

ATURAN PAKAI
Dewasa: 1 tablet 400 μg atau 2 tablet 250 μg, sehari. (400 μg - 500 μg, sehari)

KEMASAN
FOLAVIT
250 μg tablet
Dus isi 10 strip @ 10 tablet
DepKes. RI BMD862710008441
FOLAVIT 400 μg tablet
Dus isi 10 strip @ 10 tablet
DepKes. RI BMD862710009441

PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya.

Dibuat oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia
Continue reading...

Thursday, December 24, 2009

Neo Diastop

neo
DIASTOP
Improves stool consistency and reduces number of bowel movements.

Composition:
Each caplet contains:
Attapulgite ........................... 600 mg
Pectin .................................. . 50 mg

Indications:
Symptomatic treatment of non specific diarrhoea

Dosage:
Adults and children over 12 years of age:
2 caplets after each subsequent bowel movement, do not exceed 12 caplets in 24 hours.
Children 6 to 12 years of age: 1 caplet after each subsequent bowel movement, do not exceed 6 caplets in 24 hours.

Warning and Precautions:
Diarrhoea may caused dehydration and loss of electrolites.therefore oral rehydration therapy may be needed. If diarrhoea in children accompanied by dehydration, the first medication should be oral rehydration solution. Keep out of the reach of children. Unless directed by a physician, do not use for more than 2 days or in the presence of high fever, or in infants and children of 3 to 6 years of age.
Absorption of the other drugs may be affected in the digestive tract, it is recommended to space this drug in the 2 - 3 hours interval with the other drugs.

Contra indications :
In patients which the constipation should be avoided. Hypersensitivity to attapulgite.

Presentation/ Reg. No:
Caplet @ Boxes of 100 caplets in 25 strips of 4's/catch cover/DBL9120605004A1.

Store in room temperature

Manufactured by:
P.T. ARMOXINDO FARMA.
Cianjur - Indonesia.



neo
DIASTOP
Mengurangi frekuensi buang air besar dan memperbaiki konsistensi faeces yang encer.

Komposisi
:
Tiap kaplet mengandung :
Attapulgite ........................... 600 mg
Pectin …............................ 50 mg
Indikasi :
Untuk pengobatan simtomatik pada diare non spesifik.

Dosis :
Dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun : 2 kaplet setiap setelah buang air besar, maksimum 12 kaplet dalam 24 jam.
Anak-anak diatas 6 tahun : 1 kaplet setiap setelah buang air besar, maksimum 6 kaplet dalam 24 jam.

Peringatan dan Perhatian:
Diare dapat mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit, karena itu terapi rehidrasi oral mungkin diperlukan.
Jika diare pada anak-anak disertai dengan dehidrasi, maka pengobatan awal harus diberikan dengan cairan rehidrasi oral (Oralit). Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jangan digunakan lebih dari 2 hari atau pada keadaan demam tinggi, jangan digunakan pada anak-anak 3 - 6 tahun, kecuali atas petunjuk dokter. Dapat mempengaruhi absorpsi obat-obat lain dalam saluran pencemaan, oleh karena itu dianjurkan interval 2-3 jam antara pemberian obat ini dengan obat-obat lain.

Kontra indikasi :
Penderita dimana konstipasi harus dihindari.
Hipersensitif terhadap attapulgite.

Kemasan/No.Reg.:
Kaplet: Dus isi 100 kaplet dalam 25 strip x 4 kaplet/catch cover/DBL9120605004A1.

Simpan pada suhu kamar.

Dibuat oleh :
P.T. ARMOXINDO FARMA.
Cianjur - Indonesia.
Continue reading...

Thyrozol

Thyrozol®
Thiamazole
Antithyroid

Compositions
Thyrozol 5 : Each film-coated tablet contains Thiamazole 5 mg
Thyrozol 10 : Each film-coated tablet contains Thiamazole 10 mg

Mode of action
Thiamazole inhibits dose-dependently the incorporation of iodine into tyrosine and thereby the neo-synthesis of thyroid hormones. This property permits symptomatic therapy of hyperthyroidism regardless of its cause.
Whether thiamazole furthermore affects the "natural course" taken by the immunologically induced type of hyperthyroidism (Graves disease), i.e. whether it suppresses the underlying immunepathogenetic process, can presently not be decided with certainty. The release of previously synthesised thyroid hormones from the thyroid is not affected. This explains why the length of the latency period until normalization of the serum concentrations of thyroxine and triiodothyronine, and thus to clinical improvement, differs in individual cases.
Hyperthyroidism is also unaffected by the release of hormones after destruction of the thyroid cells, e.g. after radioiodine therapy or in thyroiditis.

Indications
  • Drug treatment of hyperthyroidism, especially in slight or absent thyroid enlargement (goiter) as well as in younger patients
  • Preparation for surgery in all forms of hyperthyroidism
  • Preparation of patients with hyperthyroidism for planned radioiodine treatment to prevent the risk of a thyrotoxic crisis after therapy.
Dosage and administrations
Conservative treatment of hyperthyroidism:
Two different dosage regimens are recommended:
  1. Complete blocking of thyroid hormone production is achieved with daily doses of 25 to at the most 40 mg thiamazole.
    Initial therapy: (to achieve normal metabolic activity of the thyroid gland):
    Maximum daily dose : 40 mg thiamazole in single doses of maximally 20 mg thiamazole, depending on the severity of the disease.
    2 times 1 tablet Thyrozol 10 mg (20 mg)-mild cases
    2 times 1 tablet Thyrozol 20 mg (40 mg) - severe cases.
    After normalization of the thyroid function (generally between weeks 3 and 8) the dose is stepwise reduced in long-term treatment to a maintenance dose of 5 to 20 mg daily. This dosage usually requires the additional administration of thyroid hormones.
  2. In therapy with Thyrozol alone the dose depends on metabolic activity which must be checked individually in each patient, paying particular attention to the TSH (= Thyroid Stimulating Hormone) values. The dose is in this case between 2.5 and 10 mg per day.
    Iodine-induced hyperthyroidism may possibly require higher doses.
Preparation for surgery in all forms of hyperthyroidism:
Normal metabolic activity of the thyroid gland is attained, as described above. Surgery should be performed as soon as normal function is achieved. Otherwise, supplementary thyroid hormones must be administered. In the last 10 days before surgery, the surgeon may prefer to administer iodine to consolidate the thyroid tissue.
Treatment before radioiodine therapy:
Normal metabolic activity of the thyroid gland is attained, as described above.
Thyrozol reduces the biological half-life of iodine in the thyroid tissue. Therefore, higher radioiodine doses may be necessary.

Dosage in children:
Initial dose depending on the severity of the disease: 0.3 - 0.5 mg/kg body weight per day.
Maintenance dose: 0.2 - 0.3 mg/kg body weight per day.
Additional treatment with thyroid hormone may be required.
In pregnant women as low dose as possible 2.5 - 10 mg per day should be selected and treatment be carried out without the additional administration of thyroid hormone.
In patient with liver damage the dose should be kept as low as possible.
In initial therapy of hyperthyroidism, the above specified single doses should be taken at regular intervals throughout the day. The maintenance dose can be taken all at once in the morning after breakfast.
Take Thyrozol tablets whole with some liquid (e.g. ½ glass of water) after meals.
In conservative treatment of hyperthyroidism therapy with Thyrozol is usually continued over a period of 6 months to 2 years (1 year on average). Statistically, the probability of remission increases with the duration of therapy.
When preparing patients with hyperthyroidism for surgery, treatment with Thyrozol can be commenced about 3-4 weeks prior to the scheduled time of operation (or earlier in individual cases) and discontinued on the day before surgery.
When used in preparing patients with autonomous adenoma or latent hyperthyroidism for a required exposure to iodine, the duration of treatment with Thyrozol depends on the time the iodine-containing substance is retained in the body.
Patients with considerably enlarged thyroid glands and constriction of the trachea should only undergo short-term treatment with Thyrozol, since long-term administration can result in further thyroid growth, which is associated with the risk of further constriction of the airways. Where necessary, treatment must be monitored particularly carefully. The treatment is preferably combined with thyroid hormones.

Warnings
Agranulocytosis is potentially a serious side effect. Patients should be instructed to report to their physicians any symptoms of agranulocytosis, such as fever or sore throat. Leucopenia, thrombocytopenia, and aplastic anemia (pancytopenia) may also occur. The drug should be discontinued in the presence of agranulocytosis, aplastic anemia (pancytopenia), hepatitis, or exfoliative dermatitis. The patients bone marrow function should be monitored. Due to the similar hepatic toxicity profiles of methimazole & propylthiouracil, attention is drawn to the severe hepatic reactions which have occurred with both drugs. There have been rare reports of fulminant hepatitis, hepatic necrosis, encephalopathy, and death. Symptoms suggestive of hepatic dysfunction (anorexia, pruritus, right upper quadrant paint, etc.) should prompt evaluation of liver function. Drug treatment should be discontinued promptly in the event of clinically significant evidence of liver abnormality including hepatic transaminase values exceeding 3 times the upper limit of normal. Methimazole can cause fetal harm when administered to a pregnant woman. Methimazole readily crosses the placental membranes and can induce goiter and even creatinism in the developing fetus. In addition, rare instances of aplasia cutis, as manifested by scalp defects, have occurred in infants born to mothers who received methimazole during pregnancy. If pregnant while taking this drug, the patient should be warned of the potential hazard to the fetus. Since scalp defects have not been reported in offspring of patients treated with propylthiouracil, that agent may be preferable to methimazole in pregnant woman requiring treatment with antithyroid drugs.
Post-partum patients receiving methimazole should not nurse their babies.

Precautions
General: Patients who receive methimazole should be under close surveillance and should be cautioned to report immediately any evidence of illness, particularly sore throat, skin eruptions, fever headache, or general malaise. In such cases, white-blood-cell and differential counts should be made to determine whether agranulocytosis has developed. Particular care should be exercised with patients who are receiving additional drugs known to cause agranulocytosis.
Laboratory tests: Because methimazole may cause hypoprothrombinemia and bleeding, prothrombin time should be monitored during therapy with the drug, especially before surgical procedures. Periodic monitoring thyroid function is warranted, and the finding of an elevated TSH warrants a decrease in the dosage of methimazole.
Carcinogenesis, Mutagenesis, Impairment of fertility: In a 2 year study, rats were given methimazole a doses of 0.5, 3 and 18 mg/kg/day. These doses were 0.3, 2 and 12 times the 15 mg/day maximum human maintenance dose (when calculated on the basis of surface area). Thyroid hyperplasia, adenoma, and carcinoma developed in rats at the two higher doses. The clinical significance of these findings is unclear.
Pregnancy: Methimazole used judiciously is an effective drug in hyperthyroidism complicated by pregnancy. In many pregnant women, the thyroid dysfunction diminishes as the pregnancy proceeds: consequently, a reduction in dosage may be possible. In some instances, use of methimazole can be discontinued 2 or 3 weeks before delivery.
Nursing mothers: The drug appears in human breast milk and its use is contraindicated in nursing mothers (see warnings).

Side-effects
  • Minor adverse reactions such as: Allergic skin reactions (itching, redness, rash) of varying degree occur frequently. They mostly take a mild course and frequently recede during continued therapy. Serious courses to the point of generalized dermatitis have been described only in isolated cases. Nausea, vomiting, epigastric distress, arthralgia, paresthesia, loss of taste, abnormal loss of hair, myalgia, headache, pruritus, drowsiness, neuritis, edema, vertigo, skin pigmentation, jaundice, sialadenopathy and lymphadenopathy.
  • Drug fever occurs rarely.
  • Disturbances in the sense of taste occur rarely; they can recede after discontinuation of Thyrozol, normalization may, however, take several weeks.
  • Changes in the blood count, granulocytopenia, thrombocytopenia, aplastic anemia, hypoprothrombinemia and nephritis can occur; agranulocytosis occurs in about 0.3-0.6 % of cases. They become apparent as inflammation of oral mucosa and pharynx, fever, formation of furuncles. In the case that any of these symptoms occur, especially during the first weeks of treatment, patients should discontinue Thyrozol immediately and have their doctor perform a blood count check. The symptoms can still occur weeks or months after the start of therapy. In most cases, they recede spontaneously.
  • Isolated cases of pain in the joints have been reported, which generally develop gradually and also after several months of therapy. There are no signs of arthritis.
  • Isolated cases of jaundice due to impaired flow of bile or toxic inflammation of the liver have been described.
    The symptoms generally recede after discontinuation of the medication.
  • The following have been described in isolated cases: inflammation of lymph nodes (lymphadenitis), acute salivary gland swelling, decrease in the number of blood platelets and other blood constituents, inflammation of vessels and nerves, generally impaired sensitivity, loss of hair, Thyrozol-induced lupus erythematosus (autoimmune disease, the symptoms of which disappear after discontinuation of Thyrozol), as well as insulin autoimmune syndrome (with pronounced drop in blood glucose values).
  • Thiamazole reduces the energy requirement which was pathologically increased due to hyperthyroidism. This means that, with an unaltered diet, again in body weight can occur during treatment with Thyrozol. This is generally desired from a medical point of view.
  • Excessive dosage can cause hypothyroidism as well as diffuse thyroid growth. Consequently, the Thyrozol dose should be reduced after the metabolic activity of the thyroid gland has been normalized and/or a thyroid hormone should be given additionally. It is not appropriate to discontinue Thyrozol completely and continue treatment with thyroid hormones.
  • Further growth of the already enlarged thyroid under thiamazole therapy in spite of suppressed TSH-levels (TSH =Thyroid Stimulating Hormone) is a result of the underlying disease and cannot be prevented by additional treatment with thyroid hormones.
  • The occurrence or deterioration of an eye disease which is typical in patients with hyperthyroidism (endocrine orbital disease) is largely independent of the course taken by the thyroid disease.
    Such a complication, by itself, is no reason to change the treatment regimen and is not to be regarded as a side-effect of thiamazole therapy correctly carried out.
  • At low percentage late hypothyroidism can occur after therapy with Thyrozol without any additional surgical measures. This is probably not a side-effect of Thyrozol, but to be regarded as inflammatory process in the thyroid tissue occurring alongside the underlying disease.

Please consult your doctor immediately if you have any side-effects. He or she will take any appropriate counter-measures necessary. If you have symptoms of agranulocytosis, granulocytopenia and thrombocytopenia drug fever or disturbances in the sense of taste, he or she will discontinue treatment with Thyrozol tablets and prescribe a different medication.
It should be noted that about 10 % of patients with untreated hyperthyroidism have leukopenia (white-blood-cell count of less than 4,000/mm3) often with relative granulopenia.

Contraindications
Thyrozol should not be used in known hypersensitivity to thiocarbamide derivatives, patients with changes in the blood count (granulocytopenia), cholestasis existing before the start of therapy, previous damage to bone marrow after treatment with carbimazole or thiamazole.
Thyrozol should only be used under certain conditions and with particular caution in earlier, less serious hypersensitivity reactions (e.g. allergic skin rashes, itching).
Thyrozol should only be used short-term and with careful medical monitoring in considerable enlargement of the thyroid gland with constriction of the trachea because of the risk of thyroid growth.
Methimazole is contraindicated in nursing mothers because the drug is excreted in milk.

Interactions
Iodine deficiency increases, excess iodine reduces the response of the thyroid gland to Thyrozol. No further direct interactions with other medication are known. It should, however, be noted that m the presence of hyperthyroidism the break-down and excretion of other medication can be accelerated. With increasing normalization of the thyroid function these also return to normal. If necessary, the doctor will have to correct the dosage. The activity of anticoagulants may be potentiated by anti-vitamin-K activity attributed to methimazole.

Storage
Store in a dry place, below 25° C

Presentations
Thyrozol 5 : Box of 10 x 10 film-coated tablets in blisters
Thyrozol 10 : Box of 10 x 10 film-coated tablets in blisters

"Harus dengan resep dokter"
"On medical prescription only"

Manufactured by
Merck KGaA, Germany ,

Imported by
PT.Merck Tbk., Jakarta

Reg. Nos.
Thyrozol 5 : DKI 0063401417A2
Thyrozol 10 : DKI0063401417B2

Continue reading...

Cetafloxo

CETAFLOXO 500
Kaplet Salut Selaput


Komposisi:
Tiap kaplet salut selaput mengandung :
Ciprofloxacin 500 mg

Farmakologi:
Ciprofloxacin merupakan antibiotik fluorokuinolon, bekerja dengan cara mempengaruhi enzim DNA gyrase bakteri. Ciprofloxacin merupakan antibiotik untuk bakteri gram negatif dan gram positif yang sensitif.
Bakteri gram positif yang sensitif: Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pyogenes.
Bakteri gram negatif yang sensitif: Campylobacter jejuni, Citrobacter diversus, Citrobacter freundii, Enterobacter cloacae, Escherichia coli, Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Morganella morganii, Neisseria gonorrhoeae, Proteus mirabilis, Proteus vulgaris, Prodivencia rettgeri,
Providencia stuartii, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, Serratia marcescens, Shigella flexneri, Shigella sonnei.

Indikasi:
Untuk pengobatan infeksi yarg disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap ciprofloxacin seperti:
  • Infeksi saluran kemih termasuk prostatitis
  • Uretritis dan servisitis gonore
  • Infeksi saluran cerna, termasuk demam tifoid yang disebabkan oleh S. typhi, Khasiat ciprofloxacin untuk eradikasi "chronic typhoid carrier" belum diketahui.
  • Infeksi saluran nafas, kecuali pneumonia akibat streptococcus
  • Infeksi kulit dan Jaringan lunak
  • Infeksi tulang sendi

Kontra indikasi:

  • Penderita yang hipersensitif terhadap ciprofioxacin atau antibiotik derivat kuinolon lainnya.
  • Wanita hamil dan menyusui
  • Anak-anak dibawah usia 12 tahun.

Efek samping:

  • Efek terhadap saluran cerna :
    Mual, diare, muntah, gangguan pencernaan, dispepsia, nyeri abdomen, flatulasi, anoreksia, disfagia. Kalau terjadi diare berat atau persisten selama atau sesudah pengobatan, segera konsultasi pada dokter karena gejala tersebut mungkin menutupi kelainan yang lebih serius (colitis pseudo-membran) yang memerlukan tindakan segera. Kalau ini terjadi, pemberian ciprofloxacin harus segera dihentikan dan diganti dengan obat lain yang lebih
    sesuai (misalnya vancomycin per oral 4 x 250 mg sehari).
    Obat-obat yang menghambat peristaltik merupakan kontra indikasi.
  • Efek terhadap sistem saraf:
    • Pusing, sakit kepala, rasa letih, insomnia, agitasi, tremor. Sangat jarang : paralgesia perifer, berkeringat, kejang, ansietas, mimpi buruk, konfusi, depresi, halusinasi, gangguan pengecapan dan penciuman, gangguan penglihatan (misal penglihatan ganda, warna-warni). Reaksi kadang-kadang timbul setelah pemberian ciprofloxacin untuk pertama kalinya.
      Dalam hal ini ciprofloxacin harus segera dihentikan dan segera konsultasi pada dokter.
    • Reaksi hipersensitif:
      Reaksi kulit seperti kemerahan pada kulit, pruritus, drug fever. Reaksi anafilaksis (seperti edema pada wajah, vaskuler dan laring, dyspnea yang bertambah berat sehingga terjadi syok yang mengancam jiwa). Dalam hal ini ciprofloxacin segera dihentikan, tindakan darurat medis (misal mengatasi syok) harus segera dilakukan.
  • Efek terhadap ginjal/urogenital:
    Nefritis interstisial, gagal ginjal, termasuk gagal ginjal yang transien, poliuria, retensi urin, perdarahan ureter, vaginitis dan asidosis.
  • Efek terhadap hati:
    Hepatitis, sangat jarang : kelainan hati yang luas seperti nekrosis hati.
  • Efek terhadap sistem kardiovaskuler:
    Jarang : takikardia, palpitasi, atrial flutter, ventricular ectopi, sinkope, hipertensi, angina pectoris, infark miokard, cardiopulmonary arrest, cerebral thrombosis, wajah merah dan panas, migren, pingsan.
  • Lain-lain :
    Jarang: nyeri sendi, lemas seluruh tubuh, nyeri otot, tendovaginitis, fotosensitivitas ringan, tinitus, gangguan pendengaran terutama untuk frekuensi tinggi, epistaksis, laryngeal atau pulmonary oedema, hemoptisis, dyspnea, bronchospasm, pulmonary embolism.
  • Efek pada darah :
    Eosinofilia, leukositopenia, leukositosis, anemia granulositopenia.
    Sangat jarang : trombositopenia, trombositosis, kelainan protrombin.
  • Efek pada nilai laboratorium/ deposit urin:
    Kadar transaminase dan alkali fosfatase dalam darah mungkin meningkat untuk sementara; ikterus kolestasis dapat terjadi terutama pada pasien yang pernah mengalami kelainan, peningkatan kadar urea, kreatinin dan bilirubin darah secara transien; hiperglikemia; pada kasus tertentu: kristaluria dan hematuria.

Interaksi obat:

  • Obat-obat yang mempengaruhi keasaman lambung (antasida) yang mengandung aluminium atau magnesium hidroksida akan mengurangi absorpsi ciprofloxacin. Karena itu ciprofloxacin harus ditelan 1-2 jam sebelum atau minimal 4 jam sesudah minum antasida. Pembatasan ini tidak berlaku pada antasida yang tidak mengandung aluminium atau magnesium hidroksida.
  • Pemberian ciprofloxacin bersama teofilin dapat meningkatkan kadar teofilin dalam plasma sehingga dapat menimbulkan efek samping teofilin. Apabila kombinasi ini tidak dapat dihindarkan, kadar teofilin dalam plasma harus dimonitor dan dosis teofilin harus dikurangi. Jika kadar teofilin tidak dapat dimonitor, pemberian ciprofloxacin harus dihindari.
  • Kenaikan kadar kreatinin serum untuk sementara terlihat pada pemberian ciprofloxacin bersama cyclosporin. Dalam hal ini, kadar kreatinin serum harus sering dipantau (dua kali seminggu).
  • Harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya interaksi pada pemberian ciprofloxacin bersama probenesid.
  • Pemberian bersama ciprofloxacin dan antikoagulan oral dapat memperpanjang waktu perdarahan.
  • Pemberian bersama metoklopramid mempercepat absorbsi ciprofloxacin.

Peringatan dan perhatian:

  • Ciprofloxacin harus ditelan dengan air secukupnya untuk mencegah kristaluria.
  • Hati-hati pemberian pada penderita dengan gangguan ginjal (lihat takaran pemakaian).
  • Pemberian tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
  • Ciprofloxacin harus diberikan dengan hati-hati pada penderita usia lanjut.
    Pada kasus epilepsi dan pasien yang pernah mengalami gangguan SSP (misalnya ambang kejang rendah, riwayat konvulsi, aliran darah ke otak berkurang dan stroke ), ciprofloxacin hanya diberikan jika manfaatnya lebih besar dibanding risikonya, karena pasien demikian mungkin akan menderita efek samping SSP.
  • Meskipun diminum sesuai dengan resep dokter, obat ini dapat mengganggu respon pasien, kemampuan mengemudi dan menjalankan mesin. Gangguan ini akan lebih berat jika diminum bersama alkohol.
  • Seperti halnya antimikroba lainnya, pemberian jangka lama dapat mengakibatkan pertumbuhan berlebih dari mikroorganisme yang kurang peka.
  • Hindarkan penderita dari sinar matahari yang berlebihan. Bila terjadi fototoksisitas, pengobatan harus segera dihentikan.

Takaran pemakaian:
Dewasa:

  • Infeksi ringan/sedang saluran kemih : 2 x 250 mg sehari
  • Infeksi berat saluran kemih : 2 x 500 mg sehari
  • Infeksi ringan/sedang saluran nafas, tulang, sendi, kulit, jaringan lunak : 2 x 250-500 mg sehari
  • Infeksi berat saluran nafas, tulang, sendi, kulit, jaringan lunak : 2 x 500-750 mg sehari
  • Prostatitis kronis : 2 x 500 mg
  • Infeksi saluran cerna: 2 x 500 mg sehari
  • Gonore akut: 250 mg dosis tunggal
  • Untuk mencapai kadar yang adekuat pada osteomielitis akut, dosis tidak boleh kurang dari 2 x 750 mg sehari.

Lama pengobatan tergantung beratnya infeksi, kemajuan klinis dan bakteriologis. Untuk infeksi akut, lama pengobatan biasanya 5-10 hari. Pada umumnya pengobatan harus diteruskan sampai minimal 3 hari setelah gejala klinis hilang.
Dosis pada gangguan fungsi ginjal:
Bila bersihan kreatinin kurang dari 20 ml/menit, maka dosis normal hanya diberikan 1 kali sehari atau jika diberikan 2 kali, dosis harus dikurangi separuhnya.

Kemasan:
Dus @ 20 kaplet (2 blister @ 10 kaplet salut selaput) Cetafloxo 500 mg DKL 9524211909A2

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

SIMPAN DI TEMPAT KERING DAN SEJUK (15-25)°C
TERLINDUNG DARI CAHAYA

PT SOHO INDUSTRI PHARMASI
Jl. Pulogadung No. 6
JAKARTA-INDONESIA

Continue reading...

Letonal

LETONAL®

KOMPOSISI :
LETONAL® 25, tiap tablet mengandung :
Spironolactone ........................................... 25 mg
LETONAL® 100, tiap tablet mengandung :
Spironolactone ...........................................100 mg

TINJAUAN UMUM :
LETONAL® merupakan preparat Spironolactone, suatu steroid dengan struktur yang mirip Aldosterone. Bekerja pada bagian distal dari tubulus ginjal sebagai kompetitif inhibitor dari Aldosterone dimana akan terjadi peningkatan ekskresi Natrium dan air serta pengurangan ekskresi Kalium, sehingga dapat berefek sebagai diuretik dan antihipertensi.

INDIKASI :
Hipertensi essensial, oedema akibat payah jantung kongestif, oedema akibat sirosis hati dengan atau tanpa asites, edema akibat sindroma nefrotik, diagnosa dan pengobatan hiperaldosteronisme primer, pencegahan hipokalemia pada penderita yang mendapat digitalis apabila tindakan lain tidak berhasil.

KONTRAINDIKASI :
Insufisiensi ginjal akut, gangguan fungsi ginjal, anuria, hiperkalemia dan hipersensitivitas terhadap Spironolactone.

EFEK SAMPING :
  • Ginekomastia mungkin timbul pada penggunaan Spironolactone dan biasanya reversibel apabila pengobatan dihentikan.
  • Efek samping lain yang jarang dijumpai berupa : gangguan pencernaan termasuk kejang perut dan diare, rasa kantuk, letargi, urtikaria, gangguan mental, drug fever, ataksia, gangguan menstruasi atau amenore dan perdarahan postmenopausal, agranulositosis.
PERINGATAN DAN PERHATIAN :
  • Ketidakseimbangan elektrolit perlu dimonitor kecuali hiperkalemia.
  • Wanita menyusui/ hamil.
  • Hati-hati pemberian pada penderita dengan kegagalan fungsi hati atau ginjal yang berat.
INTERAKSI OBAT :
  • Meningkatkan efek dari diuretik atau antihipetensi.
  • Meningkatkan waktu paruh Digoxin.
  • Suplementasi Kalium dihindari selama penggunaan obat ini.
DOSIS :
Dewasa :
  • Hipertensi: Sehari 50 - 100 mg dalam dosis tunggal atau terbagi.
    Pengobatan hendaknya dilanjutkan sekurangnya 2 minggu.
  • Edema: Dosis umum : Sehari 100 mg, dapat diberikan sebagai dosis tunggal atau terbagi.
    Pengobatan hendaknya dilanjutkan sekurangnya 5 hari.
  • Payah jantung kongestif: Dosis umum : Sehari 100 mg, dapat ditingkatkan hingga 200mg/hari. Dosis pemeliharaan 25-200mg/hari.
  • Sirosis hati dengan edema dengan atau tanpa asites: Bila ratio Na+/K+ dalam urine > 1,0, maka dianjurkan dosis sebesar 100 mg per hari dan bila ratio ini <>
Anak-anak :
  • Edema: Sehari 3,3 mg/kg BB/hari, dalam dosis tunggal atau terbagi.
PENYIMPANAN :
Simpan di tempat sejuk (15°-25°C) dan kering, terlindung dari cahaya.

KEMASAN & NO. REGISTRASI :
LETONALreg; 25 tablet : Box isi 10 strip @ 10 tablet/ DKL9118808410A1
LETONALreg; 100 tablet : Box isi 10 strip @ 10 tablet/ DKL9118808410B1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT Otto Pharmaceutical Industries
BANDUNG - INDONESIA
Continue reading...

Cerini

CERINI®
Film-coated caplet

Each caplet contains:
Cetirizine Hydrochloride ....................................... 10 mg

PHARMACOLOGY
Cetirizine is a potent antihistamine and selective H1 antagonist (AH1) with negligible anti-cholinergic and anti-serotonin effects.
It has a low potential for drowsiness at pharmacologically active doses.
Cetirizine inhibits the histamine - mediated “early” phase of the allergic reaction and also reduces the migration of inflammatory cells and the release of mediators associated with the “late” allergic response.

INDICATIONS
CERINI® is indicated for the treatment of perennial rhinitis, seasonal allergic rhinitis and chronic idiopathic urticaria.

CONTRA-INDICATIONS
  • Hypersensitivity to Cetirizine.
  • Nursing mothers.
ADVERSE REACTIONS
Cetirizine is generally well tolerated, the possibility adverse reactions may occur as follows:

  • Drowsiness, dizziness, headaches, agitation, dry mouth and gastro-intestinal discomfort.
  • If affected the dose may be taken as 5 mg in the morning and 5 mg in the evening
  • In some Individuals, hypersensitivity reactions, including skin reactions and angioedema may develop.
PRECAUTIONS

  • Patients are advised not to exceed the recommended dose if driving or operating machinery.
  • It should be used with caution in pregnancy women.
DRUG INTERACTIONS
It should be used with caution in concomitant with sedative and alcohol.

DOSAGES
Adults and children > 6 years of age: 1 caplet (10 mg) daily.

  • Safety for use in children <>
  • There ore no data to suggest that the dose needs to be reduced in elderly patients.
  • In patients with renal insufficiency dosage should be given ½ caplet daily.
ON MEDICAL PRESCRIPTION ONLY

PRESENTATIONS
Box of 2 strips B 10 caplets.
Reg. No.: DKL9822225309A1

STORAGE
Keep in a cool and dry place.

Manufactured by:
PT SANBE FARMA
Bandung – Indonesia



CERINI®
Film-coated caplet

Tiap kaplet mengandung :
Setirizin Hidroklorida .............................................. 10 mg

FARMAKOLOGI
Setirizin merupakan antihistamin kuat golongan antagonis H1 (AH1) yang tidak menimbulkan efek antikolinergik dan antiserotonin.
Pada dosis farmakologi, hanya sedikit menimbulkan efek mengantuk.
Setirizin menghambat mediator histamine, pada fase cepat reaksi alergi, juga mengurangi perpindahan sel-sel inflamasi dan pelepasan mediator-mediator pada fase lambat reaksi alergi,

INDIKASI
CERINI® diindikasikan untuk pengobatan rinitis perennial, rinitis alergi, urtikaria idiopatik kronis.

KONTRA-INDIKASI

  • Hipersensitivitas terhadap Setirizin.
  • Ibu menyusui.
EFEK SAMPING
Efek samping Setirizin dapat ditoleransi dengan baik, efek samping yang mungkin terjadi yaitu :

  • Perasaan mengantuk, pusing-pusing, sakit kepala, gelisah, mulut kering dan gangguan saluran pencernaan.
  • Jika diperlukan pemberian dapat dilakukan dengan dosis 5 mg pada pagi hari dan 5 mg pada sore/ malam hari.
  • Pada beberapa ihdividu dapat terjadi reaksi hipersensitif termasuk reaksi pada kulit dan angioedema.
PERHATIAN

  • Pemakaian tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan apabila mengemudi atau mengoperasikan mesin.
  • Hati-hati bila diberikan pada wanita hamil.
INTERAKSI OBAT
Hati-hati bila digunakan bersama-sama dengan sedative dan alkohol.

DOSIS
Dewasa dan anak-anak usia > 6 tahun : 1 kaplet (10 mg) 1 kali sehari.

  • Keamanan penggunaan pada anak-anak usia <>
  • Belum ada data yang mendukung penurunan dosis pada penderita lanjut usia.
  • Pada penderita gangguan fungsi ginjal, dosis dapat diberikan ½ kaplet 1 kail sehari.
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

KEMASAN
Dus isi 2 strip @ 10 kaplet.
No. Reg.: DKL9822225309A1

PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk dan kerlng.

Dibuat oleh:
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia
Continue reading...

Wednesday, December 23, 2009

Ratax

RATAX®
Capsule

Composition :
Each capsule contains:
% RDA*
Panax ginseng45 mg-
Cordiceps15 mg-
Herba Epimedii60 mg-
Vitamin E Acetate10 mg100%
Vitamin B11.4mg116.67%
Vitamin B21,6mg123.01%
Vitamin B62.2 mg169.23%
Vitamin B123 mcg125%
Nicotinamida18 mg112.50%
Zinc Sulphate15 mg52.05%

* % RDA on base diet 2000 kcal.
- % RDA not been reported

Indication :
To improve and maintain stamina for men and women, and for sexsual dysfunction.

Warnings and Precautions :
Pregnancy and lactation
Not recommend for patient hypertension and cardiovascular dysfunction, except with the under control doctor.

Dosage:
1 to 3 capsules daily, and take all at once.

Side Effect:
Side effect has never been reported.

Storage :
Store in a cool (15°-25°C) and dry.

Presentation :
Box, contain 5 strips @ 4 capsules
Reg. No. POM SD 051 324 011

Manufactured by:
Pyridam
Cianjur - Indonesia
www.pyridam.com


RATAX®
Kapsul


Tiap kapsul mengandung:

% AKG*
Panax ginseng45 mg-
Cordiceps15 mg-
Herba Epimedii60 mg-
Vitamin E Asetat10 mg100%
Vitamin B11.4mg116.67%
Vitamin B21,6mg123.01%
Vitamin B62.2 mg169.23%
Vitamin B123 mcg125%
Nicotinamida18 mg112.50%
Zinc Sulfate15 mg52.05%

* % AKG berdasarkan diet 2000 kcal.
- % AKG belum terdata

Kegunaan :
Membantu memelihara dan membantu memulihkan stamina dan pada pria dan wanita, juga untuk disfungsi seksual.

Peringatan dan perhatian :
Hati-hati pada penderita kardiovaskuler dan penderita hypertensi kecuali dengan pengawasan dokter
Tidak dianjurkan pada wanita hamil dan menyusul

Aturan pakai:
1-3 kapsul sehari, 1 kali minum per hari

Efek samping :
Sampai saat ini belum ditemukan

Penyimpanan :
Ditempat yang sejuk (15°-25°C) dan kering

Kemasan :
Box isi 5 strip @ 4 kapsul
No Reg. POM SD 051 324 O11

Diproduksi oleh:
Pyridam
Cianjur - Indonesia
www.pyridam.com
Continue reading...

Nonemi

NONEMI® Tablet

Komposisi:
Setiap tablet salut gula mengandung:
Ferrous Fumarate90mg
Copper Sulfate0.3mg
Manganese Sulfate0.15mg
Vitamin B610mg
Vitamin B1210mcg
Vitamin C100mg
Folic Acid1mg
Calcium Hydrogen Phosphate60mg
Cobalt sulfate0.5mg


Cara kerja :
NONEMI® adalah suatu preparat dengan 9 unsur pokok pembentuk darah yaitu zat besi organik (Ferrous fumarate) dikombinasikan dengan Copper sulfate, Cobalt sulfate, Manganese sulfate, Vitamin B6, Vitamin B12, Vitamin C, Folic acid, Calcium Hydrogen Phosphate, sehingga mempercepat proses pembentukan sel-sel darah merah.
NONEMI® dengan zat besi organik (Ferrous fumarate) dapat mengurangi iritasi lambung dibandingkan dengan preparat besi anorganik lainnya. Selain itu juga menjamin penyerapan zat besi menjadi lebih baik, dengan demikian akan mempercepat penyembuhan penyakit anemia.
NONEMI® mengandung Calcium Phosphate, merupakan hematinik yang sangat membantu terhadap kebutuhan zat besi dan calcium selama masa hamil dan sesudah melahirkan.

Indikasi:
Pencegahan dan pengobatan anemia karena kekurangan vitamin dan zat besi.

Aturan pakai:
Dewasa & anak : 1 - 2 tablet sehari atau menurut petunjuk dokter.

Peringatan dan perhatian :
Setelah minum obat, feses berwarna hitam.

Efek samping :
Mual, muntah.

Kemasan :
Kotak isi 10 strip @ 10 tablet salut gula
No. Reg. DBL9213303016A1

Simpan di tempat sejuk (15-25°C) dan kering.

PT. LAPI LABORATORIES
CIKANDE - INDONESIA
Continue reading...

Cefila

CEFILA®
Cefixime

KOMPOSISI
Tiap kapsul CEFILA®-50 mengandung cefixime trihydrate 56 mg setara dengan cefixime 50 mg
Tiap kapsul CEFILA®-100 mengandung cefixime trihydrate 112 mg setara dengan cefixime 100 mg
Tiap kapsul CEFILA®-200 mengandung cefixime trihydrate 224 mg setara dengan cefixime 200 mg
Tiap 5 ml (sendok takar) suspensi CEFILA® Sirup Kering mengandung cefixime trihydrate 112 mg setara dengan cefixime 100 mg.

FARMAKOLOGI
CEFILA® mengandung cefixime. suatu turunan sefalosporin generasi ketiga yang dapat diberikan per oral. Obat ini bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel kuman dan menimbulkan efek bakterisidal. Cefixime tahan terhadap hidrolisa berbagai enzim betalaktamase yang dihasilkan oleh bermacam-macam kuman. Kuman yang peka terhadap cefixime antara lain ialah:
- mikroorganisme gram positif:Streptococcus sp., Streptococcus pneumoniae.
- mikroorganisme gram negatif:Branhamella catarrhalis, E. coli. Proteus sp., Haemophilus influenzae.
Bioavailabilitas cefixime ialah 40-50%. Kadar puncak obat tercapai dalam 2-6 jam setelah pemberian dosis oral. Dosis tunggal 200 mg memberikan kadar puncak obat setinggi 2 mcg/ml. Pemberian obat bersama makanan hanya memperlambat tetapi tidak mengurangi kelengkapan absorpsinya.
Ikatan dengan protein sekitar 65-70%. Kadar obat yang tinggi terdapat pada empedu dan urin. Cefixime tidak dimetabolisme dalam tubuh. Ekskresinya terutama melalui ginjal. Obat ini tidak dapat dikeluarkan dari tubuh dengan cara hemodialisis maupun dialisis peritoneal.

INDIKASI
Cefixime diindikasikan untuk infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang peka antara lain:
  • Infeksi saluran kemih yang tidak terkomplikasi yang disebabkan oleh E. coli dan Proteus mirabilis.
  • Otitis media yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae (strain betalaktamase positif dan negatif), Moraxella (Branhamella) catarrhalis (betalaktamase positif) dan Streptococcus pyogenes.
  • Faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.
  • Acute bronchitis dan acute exacerbations of chronic bronchitis yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae (strain betalaktamase positif dan negatif)
KONTRAINDIKASI
Cefixime tidak boleh diberikan pada penderita yang hipersensitif terhadap obat ini.

DOSIS DAN CARA PEMAKAIAN
  • Dewasa dan anak-anak dengan berat > 30 Kg: 50 - 100 mg, 2 kali sehari. Untuk infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan menjadi 200 mg. 2 kali sehari.
  • Anak-anak : 1,5 - 3 mg/kg B8, 2 kali sehari. Untuk infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan menjadi 6 mg/kg BB, 2 kali sehari.
  • Pada penderita dengan gangguan faal ginjal, diperlukan pengurangan dosis sebagai berikut:
    Klirens kreatinin (ml/menit)Dosis yang diberikan
    21 - 6075 %
    ‹ 2050 %
  • Otitis media pada anak-anak: harus digunakan bentuk suspensi.
EFEK SAMPING
  • Efek samping yang dapat timbul akibat penggunaan obat ini ialah diare serta keluhan saluran cerna lainnya, pusing, sakit kepala, vaginitis, kolitis pseudomembran, reaksi hipersensitivitas dalam berbagai manifestasi, peningkatan sementara aktivitas enzim hati, kadar kreatinin terjadinya trombositopenia, leukopenia dan eosinofilia.
  • Defisiensi vitamin K (hipoprotrombinemia atau perdarahan), defisiensi grup vitamin B (glositis, stomatitis, anoreksia, neuritis).
  • Dapat terjadi reaksi positif palsu pada pemeriksaan gula urin bila menggunakan larutan Benedict, Fehling dan elimitest tetapi tidak dengan testape.
  • Dapat terjadi "a positives direct Coomb's test".
PERINGATAN DAN PERHATIAN
  • Hati-hati pada penderita yang hipersensitif terhadap golongan sefalosporin atau penisilin: dengan penderita yang mempunyai riwayat alergi, misalnya asma bronkial; rash; urtikaria; gangguan faal ginjal berat; usia lanjut; dengan nutrisi parenteral.
  • Hanya boleh diberikan pada wanita hamil atau menyusui bila dipertimbangkan manfaatnya melebihi risiko potensialnya.
  • Keamanan penggunaan pada anak-anak kurang dari 6 bulan, bayi baru lahir dan prematur belum diketahui dengan pasti.
OVERDOSIS
Tidak ada antidot spesifik untuk obat ini. Bila terjadi kelebihan dosis, dapat dilakukan bilas lambung. Cefixime praktis tidak dapat dikeluarkan dari tubuh dengan dialisis peritoneal maupun hemodialisis

PENYIMPANAN
CEFILA® Kapsul:Simpan di tempat sejuk(15-25°C) dan kering.
CEFILA® Sirup kering:Simpan pada suhu di bawah 25°C. Setelah menjadi suspensi, simpan dalam lemari es (2-8°C) dalam keadaan tertutup rapat. Suspensi hanya dapat dipakai selama 7 hari.

KEMASAN
CEFILA® -50 Kapsul:Dus, 3 strip @ 10 kapsul
No.Reg.DKL9813309201A1
CEFILA® -100 Kapsul:Dus, 3 strip @ 10 kapsul
No. Reg.DKL9813309201B1
CEFILA® -200 Kapsul:Dus, 1 strip @ 10kapsul
No. Reg. DKL 0813314001A1
CEFILA® Sirup Kering:Botol berisi 30 ml suspensi setelah rekonstitusi
No.Reg.DKL0813313938A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. LAPI LABORATORIES
SERANG - INDONESIA
Continue reading...

Analsik

ANALSIK®
Methampyrone,
Diazepam
Film-coated caplet


Each caplet contains:
Methampyrone .......... 500 mg
Diazepam .................... 2 mg

PHARMACOLOGY
ANALSIK® is a combination of Methampyrone and Diazepam.
Methampyrone is an analgesic - antipyretic agent.
Diazepam has antianxiety action and also skeletal muscle relaxant effect.
This combination is made for the purpose to relieve visceral spasm and pain.

INDICATIONS
For relief of moderate to severe pain, especially colic and post-operative, when the combination with tranquilizer is needed.

CONTRA-INDICATIONS
  • Hypersensitivity of Methampyrone and Diazepam.
  • Infants in the first month of birth or under 5 kg of body - weight, pregnant women and nursing mothers.
  • Patients with blood pressure below 100 mmHg.
  • Narrow-angle glaucoma, acute psychosis.

ADVERSE REACTIONS

  • It may cause agranulocytosis.
  • Hypersensitivity reactions, skin reactions, drowsiness, dizziness and an excessive tiredness.
  • Constipation, depression, diplopio. hypotension, Jaundice, changes In libido, nausea, tremor, urinary retention, vertigo.

PRECAUTIONS

  • It should not be given for prolonged use because it may cause muscle weakness, physical and psychological dependency.
  • It should be used with caution in patients with blood formation disorder, hepatic or renal dysfunctions. Therefore periodic blood counts and liver function tests are advisable during long-term therapy of acute pain.
  • Although It rarely cause agranulocytosis. it Is better not given for prolonged periods, for its fatal consequence.
  • Patients undergoing treatment with this drug should not operate vehicles or machineries.
  • It should not be used for therapy of muscle sickness, symptoms of influenza, rheumatism, lumbago, back sickness, burcytis, shoulder-arm syndrome.
  • It should be used with caution for severely depressed patients or those with suicidal tendency.
  • Paradoxical reactions such as acute hyperexcited states, anxiety, hallucinations and sleep disturbances have been reported; should these occur, use of the drug should be discontinued.

DRUG INTERACTIONS
If ANALSIK® is given concomitantly with centrally - depresant drugs or alcohol, effect of diazepam may increase.

DOSAGES
1 caplet, if pain persist, followed by 1 caplet 6 - 8 hourly, maximum 4 caplets daily.

ON MEDICAL PRESCRIPTION ONLY

PRESENTATIONS
Box of 10 strips @ 10 caplets.
Reg. No.: DPL8822208609A1

STORAGE
Store at room temperature (25°- 30°C).

Manufactured by :
PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia



ANALSIK®
Methampyrone,
Diazepam
Film-coated caplet


Tiap kaplet mengandung :
Metampiron .......... 500 mg
Diazepam ............... 2 mg

FARMAKOLOGI
ANALSIK® adalah kombinasi Metampiron dan Diazepam.
Metampiron adalah suatu obat analgesik - antipiretik.
Diazepam mempunyai kerja sebagai antiansietas, juga memiliki sifat merelaksasi otot rangka.
Kombinasi ini dimaksudkan untuk menghilangkan rasa nyeri dan spasme organ visceral.

INDIKASI
Untuk meringankan rasa nyeri sedang sampai berat, terutama nyeri kolik dan nyeri setelah operasi dimana diperlukan kombinasi dengan tranquilizer.

KONTRA-INDIKASI
  • Pada penderita yang hipersensitif terhadap Metampiron dan Diazepam.
  • Bayi di bawah 1 bulan atau dengan berat badan di bawah 5 kg, wanita hamil dan menyusui.
  • Penderita dengan tekanan darah lebih rendah dari 100 mmHg.
  • Glaukoma sudut sempit, keadaan psikosis akut.

EFEK SAMPING

  • Dapat menimbulkan agranulositosis.
  • Reaksi hipersensitivitas, reaksi pada kulit, ngantuk, pusing, lelah yang berlebihan.
  • Konstipasi, depresi, diplopia, hipotensi, jaundice, perubahan libido, mual, tremor, retensi urin, vertigo.

PERHATIAN

  • Hindari penggunaan jangka lama karena menimbulkan kelemahan otot dan ketergantungan fisik dan psikis.
  • Hati-hati pada penderita yang pernah mengalami gangguan pembentukan darah/kelainan darah, gangguan fungsi hati atau ginjal. Karena itu perlu dilakukan pemeriksaan fungsi hati dan hitung darah pada penggunaan jangka lama untuk pengobatan nyeri akut.
  • Walaupun jarang menimbulkan agranulositosis, sebaiknya tidak digunakan untuk jangka panjang, karena dapat berakibat fatal.
  • Selama minum obat ini jangan mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.
  • Tidak digunakan untuk mengobati sakit otot dan gejala-gejala flu dan tidak untuk mengobati rematik, lumbago, sakit punggung, bursitis, sindroma bahu lengan.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita depresi berat atau yang mempunyai kecenderungan melakukan bunuh diri.
  • Hentikan pengobatan jika terjadi reaksi-reaksi paradoksial seperti keadaan-keadaan hipereksitasi akut, ansietas, halusinasi dan gangguan tidur.

INTERAKSI OBAT
Penggunaan bersama-sama dengan obat-obat yang mendepresi SSP atau alkohol dapat meningkatkan efek Diazepam.

DOSIS
1 kaplet, bila nyeri belum hilang dilanjutkan 1 kaplet tiap 6-8 jam, maksimum 4 kaplet sehari.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

KEMASAN
Dus isi 10 strip @ 10 kaplet.
No, Reg.: DPL8822208609A1

PENYIMPANAN
Simpan pada suhu kamar (25°- 30°C).

Dibuat oleh :
PT SANBE FARMA
Bandung-Indonesia

Continue reading...

Bralin

BRALIN®
FOOD SUPPLEMENT

COMPOSITIONS:
Tablet 500 mg, each tablet contains:
Citicoline Sodium 522,4 mg (equivalent to Citicoline 500 mg)

USAGE:
BRALIN® is used to help handle decreases of cognitive ability in elderly.

DOSAGE AND ADMINISTRATIONS:
1 tablet daily, single dose, with or without food.

WARNING AND PRECAUTIONS:
Not recommended for children, pregnant, and lactating women.

ADVERSE REACTIONS:
Stomach symptom (epigastric distress), nausea, rash, headache, and dizziness.

PRESENTATIONS:
BRALIN® Tablet 500 mg: Box, 3 blisters @ 10 tablets POM SD. 061 526 761

KEEP IN ROOM TEMPERATURE (25-30)°C AND DRY PLACE

Manufactured by:
PT. BERNOFARM
Sidoarjo - Indonesia



BRALIN®
SUPLEMEN MAKANAN

KOMPOSISI:
Tablet 500 mg, tiap tablet mengandung:
Citicoline Sodium 522,4 mg (setara dengan Citicoline 500 mg)

KEGUNAAN:
BRALIN® untuk menangani penurunan kemampuan kognitif pada usia lanjut.

ATURAN PAKAI:
1 kali sehari, 1 tablet, dengan atau tanpa makanan.

PERINGATAN DAN PERHATIAN:
Tidak dianjurkan digunakan pada anak-anak, wanita hamil, dan wanita menyusui.

EFEK SAMPING:
Sakit pada perut (epigastric distress), mual, kemerahan pada kulit, sakit kepala dan pusing.

KEMASAN:
BRALIN® Tablet 500 mg: Dus, 3 blister @ 10 tablet POM SD. 061 526 761

SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30)°C DAN TEMPAT KERING

Diproduksi oleh:
PT. BERNOFARM
Sidoarjo - Indonesia
Continue reading...
 

Followers

Add to Technorati FavoritesTopOfBlogsobat, info, tablet,syrup, injection, ampul, cream, ointment, solution, blogarama - the blog directoryBlog Directory & Search engineMedicine Blogs - Blog Catalog Blog Directory Health Free Page Rank ToolPowered by  MyPagerank.Net Ping your blog, website, or RSS feed for Free
review http://www.obatinfo.com on alexa.com

Masukkan alamat email anda di bawah ini untuk mendapatkan informasi obat terbaru

   

ObatInfo.com hanya memberikan informasi-informasi yang tertera pada kemasan dan brosur obat serta dari berbagai sumber. Informasi-informasi di ObatInfo.com tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat, saran, konsultasi ataupun kunjungan kepada dokter Anda. Kunjungi dokter anda, bila memiliki masalah kesehatan. ObatInfo.com tidak bertanggung jawab atas segala dampak yang terjadi atas penggunaan/ penyalahgunaan informasi-informasi yang disajikan disini.

ObatInfo.com | all about drugs Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts